Iran Disebut Siapkan Kejutan Baru dalam Perang Lawan AS–Israel
Pemerintah Iran disebut telah menyiapkan kejutan baru terkait konflik dengan AS dan Israel, yang akan diimplementasikan dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan ini disampaikan oleh sumber militer Iran kepada kantor berita Tasnim.
Sumber militer itu mengatakan bahwa Iran telah merencanakan langkah-langkah baru yang dinilai dapat memberikan dampak besar dalam perang melawan AS dan Israel. Menurutnya, kejutan ini akan segera diimplementasikan dalam waktu dekat.
“Iran telah merencanakan kejutan baru untuk hari-hari mendatang dari perang yang sedang berlangsung, implementasi yang dapat menghasilkan hasil yang sangat besar,” kata sumber tersebut, dikutip dari Tasnim News, Senin (23/3).
Sumber itu juga menyinggung Presiden AS Donald Trump yang dinilai lebih banyak menggunakan retorika dan ancaman melalui pernyataan publik dan media sosial.
“Bertentangan dengan janji kosong Trump, Iran telah menyiapkan kejutan untuk hari-hari mendatang yang akan membuat hasil perang lebih jelas dari sebelumnya,” kata dia.
Ia juga menyindir bahwa Trump sebaiknya lebih memperhatikan perkembangan di pasar saham dan harga minyak, yang berpotensi terdampak oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa para pejabat AS telah menjalin kontak dengan tokoh-tokoh senior dalam kepemimpinan Iran, untuk mengakhiri perang.
Berbicara kepada wartawan pada Senin (23/3), Trump menyatakan bahwa para pejabat Amerika telah mengadakan apa yang ia sebut sebagai 'pembicaraan yang kuat' dengan perwakilan Iran dan bahwa kedua belah pihak tampaknya bersedia untuk mengejar hasil melalui negosiasi.
"Kami telah berbicara dengan pimpinan tertinggi. Kami telah berbicara dengan seorang pemimpin Iran yang sangat dihormati,” kata Trump dikutip dari TRTWorld, Selasa (24/3), sambil menambahkan bahwa ia belum menerima komunikasi apa pun dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan tidak menganggapnya sebagai pemimpin negara tersebut.
Trump juga mengomentari keselamatan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. "Saya tidak ingin dia dibunuh,” katanya, sambil juga mencatat ketidakpastian tentang situasi saat ini di kalangan kepemimpinan Iran.
Ia mengatakan Washington telah mencapai poin-poin kesepakatan utama dalam diskusi dengan Iran. “Kami telah melakukan pembicaraan yang intens dengan Iran. Kita lihat saja ke mana pembicaraan ini akan mengarah,” kata Trump, menambahkan bahwa diskusi telah berlangsung selama akhir pekan dan berlanjut hingga Minggu malam.
Menurut presiden AS, pembicaraan tersebut melibatkan tokoh-tokoh senior yang terkait dengan pemerintahan, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang dilaporkan melakukan kontak dengan para perantara Iran sebagai bagian dari upaya diplomatik.
Trump menyatakan bahwa kemajuan telah dicapai pada beberapa isu inti, dengan mengklaim ada '15 poin kesepakatan' antara kedua pihak. Meskipun ia tidak memberikan rincian spesifik, ia menekankan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir tetap menjadi tujuan utama posisi Washington.
"Mereka telah sepakat untuk tidak memiliki senjata nuklir,” kata Trump. "Kami menginginkan tidak adanya senjata nuklir dan perdamaian di Timur Tengah.”
Presiden mengindikasikan bahwa komunikasi lebih lanjut antara kedua pihak dapat segera dilakukan. "Kita akan berbicara hari ini, mungkin melalui telepon," katanya. "Saya berharap bisa segera bertemu. Saya berharap kita bisa menyelesaikan ini."
Dua sumber di Timur Tengah mengatakan kepada CNN Internasional, bahwa AS telah membagikan daftar 15 poin harapan kepada Iran melalui Pakistan, tetapi tidak jelas apakah Iran telah menyetujui salah satu persyaratan tersebut. Salah satu sumber mengatakan, beberapa poin akan 'hampir mustahil' untuk diterima Iran.
Sumber lainnya mengatakan, kesepakatan yang disebut Trump mencerminkan poin-poin yang diajukan AS dengan Iran dalam diskusi tahun lalu.
Teheran membantah adanya pembicaraan apa pun dan mengklaim Trump telah menarik kembali ancamannya menghantam pembangkit listrik Iran, karena takut akan pembalasan.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS,” tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang dikabarkan sebagai pejabat yang dimaksud Trump, di X. Ghalibaf menuduh bahwa laporan tentang pembicaraan itu merupakan 'berita palsu'. "Itu berita palsu yang bertujuan memanipulasi pasar keuangan dan minyak," katanya.