Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur hingga Sumur Minyak Iran di Tengah Negosiasi

/ANTARA/Anadolu/py
Ilustrasi Iran meluncurkan rudal ke arah pangkalan-pangkalan militer AS di negara Teluk.
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
31/3/2026, 13.14 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald J Trump mengancam menyerang pembangkit listrik, sumur minyak mentah, dan Pulau Kharg. Trump mengatakan itu di tengah klaim dia sedang dalam proses negosiasi.

Trump menyampaikan kegiatan militer tersebut akan dilakukan jika tidak ada kesepakatan dalam negosiasi tersebut. Namun Trump belum merinci siapa pihak yang menjadi perwakilan Iran dalam perundingan tersebut.

"Jika dengan alasan apapun kesepakatan tidak terjadi dan Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, kami akan menyelesaikan kunjungan kami di Iran dengan menghancurkan infrastruktur yang sengaja kami belum sentuh," tulis Trump seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (31/3).

Pernyatan Trump muncul sehari setelah munculnya laporan bahwa Iran menyetujui mayoritas dari proposal 15 poin yang disampaikan Amerika Serikat. Proposal tersebut diterima Iran melalui perantara di Pakistan.

Secara rinci, Iran merespon proposal 15 poin tersebut dengan lima kondisi yang harus dipenuhi agar perang di Asia Barat berakhir. Pada saat yang sama, Trump telah resmi menyampaikan niat secara publik untuk menguasai Pulau Kharg, kawasan yang memproses 90% ekspor minyak mentah Tanah Persia.

Tak lama setelah pernyataan Trump, Iran menghancurkan kapal tanker berbendera Kuwait yang sebelumnya berlabuh di Pelabuhan Dubai, Uni Emirat Arab milik Kuwait Petroleum Corp atau KPC.

Adapun KPC melaporkan tidak ada korban jiwa dalam serangan yang diluncurkan Tanah Persia. Namun serangan tersebut telah menyebabkan minyak mentah yang dibawa mencemari perairan sekitar.

Seperti diketahui, Menteri Luar Negeri dari Pakistan, Arab Saudi, dan Turkiye telah melakukan pertemuan di Pakistan akhir pekan lalu. Namun belum ada hasil konkret yang dapat menyelesaikan konflik di Asia Barat dari pertemuan tersebut.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang luas. Kondisi ini dikhawatirkan akan memperburuk prospek ekonomi dunia yang sebelumnya mulai pulih dari berbagai krisis.

Dalam pernyataan terbarunya, IMF menyoroti bahwa negara-negara di Afrika dan Asia yang sangat bergantung pada impor minyak kini menghadapi kesulitan besar dalam memperoleh pasokan energi, bahkan dengan harga yang terus meningkat.

Situasi tersebut dinilai akan semakin menekan stabilitas ekonomi di kawasan berkembang. “Semua jalan mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” kata IMF dikutip dari Bloomberg, Selasa (31/3).

IMF mengatakan, dampak konflik terhadap rantai pasok global dan infrastruktur akan sangat bergantung pada durasi perang. Namun, IMF memperkirakan dunia kemungkinan akan berada dalam kondisi ketidakpastian berkepanjangan, dengan harga energi tinggi dan inflasi yang sulit dikendalikan.

“Dunia mungkin akan berada di tengah-tengah ketegangan tetap ada, energi tetap mahal, dan inflasi sulit dikendalikan dengan ketidakpastian dan risiko geopolitik yang terus berlanjut,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief