Jepang Tempatkan Senjata Misil di Laut Cina Selatan, Bisa Jangkau Shanghai

ANTARA FOTO/REUTERS/WANA (West Asia News Agency) /NZ/dj
Ilustrasi misil.
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
31/3/2026, 19.17 WIB

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan telah menempatkan misil jarak jauh di dekat Laut Cina Selatan. Secara rinci, senjata tersebut diletakkan di Kota Kumamoto, Pulau Kyushu pada hari ini, Selasa (31/3).

Koizumi menyampaikan langkah tersebut bertujuan untuk mempersiapkan pertahanan jarak jauh untuk melawan ancaman pihak yang berusaha melakukan invasi. Selain itu, pemindahan misil jarak jauh ke bagian selatan Jepang dinilai dapat memastikan keamanan militer Negeri Sakura.

"Ini adalah inisiatif yang sangat penting untuk memperkuat kemampuan respon dan penangkalan Jepang," kata Koizumi seperti dilansir dari The Straits Times, Selasa (31/3)

Seperti diketahui, sistem misil yang ditempatkan di Kumamoto memiliki kemampuan jarak sekitar 1.000 kilometer. Dengan kata lain, senjata tersebut dapat menyentuh daratan Cina lantaran jarak antara Kumamoto dan Shanghai sekitar 900 km.

Koizumi menyampaikan pihaknya juga telah menempatkan sistem proyektil luncur kecepatan hipersonik di pulau utama Jepang, yakni Shizuoka. Senjata tersebut dirancang untuk melindungi pulau terpencil dari serangan musuh.

Jepang memiliki kebijakan ketat untuk menggunakan kekuatan militernya hanya dalam keperluan pertahanan. Namun pemerintah Jepang telah konsisten meningkatkan kemampuan pertahanannya seiring peningkatan pertahanan di Cina, Rusia, dan Korea Utara.

Adapun salah satu kawasan yang menjadi sengketa antara Jepang dan Cina adalah Pulau Senkaku. Tensi antara Negeri Sakura dan Negeri Panda meningkat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mensinyalir adanya rencana intervensi militer jika ada serangan ke Taiwan.

Frekuensi pesawat tempur Cina di perbatasan udara Taiwan mulai surut sejak awal tahun ini. Selama 10 hari terakhir bulan ini belum ada pesawat tempur asal Negeri Panda yang mengitari Naga Kecil Asia.

AFP mendata hanya ada dua pesawat asal Cina yang mendekati kawasan udara Taiwan berdasarkan Kementerian Pertahanan Cina. Angka tersebut susut dari 86 pesawat tempur yang mengitari Taiwan pada Maret 2025.

Seperti diketahui, pesawat tempur asal Cina kerap melintasi Zona Identifikasi Pertahanan Udara atau ADIZ milik Taiwan setidaknya sejak 2023. Tingkat kejadian pelanggaran ADIZ oleh pesawat Negeri Panda melonjak saat Presiden Taiwan Lai Ching-te menjabat pada Mei 2024.

Secara rinci, jumlah pesawat tempur asal Cina yang melintasi ADIZ Taiwan mencapai 153 unit pada tahun pertama Presiden Lai. Rata-rata frekuensi jet tempur asal Negeri Tirai Bambu per bulan sekitar 10 unit pada tahun lalu.

Angka tersebut susut menjadi sekitar 5 jet tempur pada Januari dan Februari 2026. Peneliti Institute for National Defense and Security Research Chieh Chung menilai susutnya frekuensi pesawat tempur Cina disebabkan oleh selesainya latihan penerbangan jarak jauh militer Cina.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief