Iran masih mempertahankan penutupan Selat Hormuz dengan mengambaikan tekanan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyampaikan ultimatum agar jalur pelayaran tersebut dapat dibuka paling lambat pada Selasa (7/4).
Kendati demikian, Iran masih tetap mengizinkan sejumlah kapal dari negara tertentu untuk melintasi Selat Hormuz. Teheran sebelumnya telah membuka akses pelayaran terbatas di Selat Hormuz kepada sejumlah kapal tanker minyak Malaysia, Thailand, Cina, Rusia, Pakistan, hingga Irak.
Pembukaan akses pelayaran terbatas secara selektif ini berdasarkan pertimbangan politik dan keamanan. Pemerintah Iran menempatkan hubungan diplomatik sebagai faktor utama dalam menentukan negara mana yang memperoleh akses ke jalur distribusi energi global tersebut.
"Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya ketika, di bawah rezim hukum baru, kerusakan akibat perang yang dipaksakan sepenuhnya dikompensasi dari sebagian pendapatan tol transit," kata Wakil Bidang Komunikasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabaei dalam akun X.
Mengutip pemberitaan Al Jazeera pada Minggu (5/4), Oman dan Iran menggelar pembicaraan tingkat wakil menteri luar negeri untuk membahas opsi guna menjamin kelancaran transit kapal di Selat Hormuz.
Perkembangan ini terjadi setelah seorang pejabat Iran pada Kamis (2/4) menyatakan bahwa negaranya tengah menyusun protokol bersama Oman untuk memantau lalu lintas di selat tersebut.
Keterangan dari Kementerian Luar Negeri Oman menyampaikan pertemuan itu berlangsung pada Sabtu (4/4) yang dihadiri para ahli dari kedua pihak. “Dalam pertemuan itu, para ahli dari kedua pihak memaparkan sejumlah pandangan dan proposal yang akan dipelajari lebih lanjut,” tulis pernyataan tersebut.
Dari laporan Al Jazeera, tiga kapal Oman terpantau melintasi Selat Hormuz di dekat Pulau Larak berdasarkan data pelacakan yang dipantau jurnal pelayaran asal Inggirs, Lloyd’s List, pada Minggu (5/4). Konvoi tersebut terdiri dari dua supertanker minyak berukuran besar dan satu kapal pengangkut gas alam cair (LNG).
Korps Garda Revolusi Islam Iran IRGC masih mengizinkan sejumlah kapal untuk melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal yang terkait dengan Pakistan, Prancis, dan Turki. Namun, sekitar 3 ribu kapal lainnya masih tertahan.
Iran kini membatasi ketat lalu lintas tersebut sebagai respons atas perang yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang makin meruncing sejak 28 Februari lalu.
Mereka menerapkan skema gerbang tol maritim bagi kapal yang ingin melintas. Melalui IRGC, Iran secara aktif memungut biaya dari kapal-kapal asal negara yang dianggap bersahabat sebagai syarat untuk mendapatkan izin melintas dengan aman di Selat Hormuz.
Analis dari jurnal pelayaran Lloyd’s List menyebut Iran menerapkan sistem gerbang tol dengan setidaknya satu kapal dilaporkan membayar US $2 juta untuk mendapatkan izin melintas dengan aman.
Sebagian besar perusahaan pelayaran tidak membayar biaya tersebut dan tidak berani melintasi selat, sehingga memilih menunggu dengan berlabuh di kedua sisi perairan.
Sebanyak 24 kapal dilaporkan melintas di Selat Hormuz pada pekan terakhir Maret lalu, merosot tajam dibandingkan 600 kapal pada akhir Februari. Sejumlah perusahaan pelayaran tetap bersedia membayar biaya yang diminta Iran untuk melintasi Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump dalam sebuah unggahan media sosial menyampaikan keterangan yang penuh dengan kata-kata kasar. Ia bersumpah akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran.