AS dan Iran Dikabarkan Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Bisa Akhiri Perang

Katadata/Hari Widowati/Chatgpt
Ilustrasi perang antara pasukan Iran dan pasukan Amerika Serikat (AS).
6/4/2026, 16.32 WIB

Amerika Serikat, Iran, dan para mediator regional dikabarkan tengah membahas syarat potensi gencatan senjata selama 45 hari. Gencatan senjata juga dapat mengarah ke pengakhiran permanen konflik.

Dikutip dari Axios pada Senin (6/4), hal tersebut disampaikan empat sumber AS, Israel, dan regional yang mengetahui pembicaraan tersebut. Sumber mengatakan, meski peluang kesepakatan kecil, namun ini adalah upaya terakhir untuk mencegah eskalasi besar-besaran.

"Ada peluang bagus, tetapi jika mereka tidak mencapai kesepakatan, saya akan meledakkan semuanya di sana," kata Trump pada Minggu (5/4).

Trump sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik Iran. Serangan ini berpotensi membuat balasan Iran kepada fasilitas serupa di negara-negara Teluk.

Dua sumber mengatakan rencana operasional AS dan Israel untuk mengebom besar-besaran fasilitas energi Iran telah siap. Namun, Trump memberikan perpanjangan tenggat waktu sebagai kesempatan terakhir mencapai kesepakatan.

Sumber juga mengatakan, negosiasi ilakukan mediator Pakistan, Turki, Mesir, serta pesan teks antara utusan Trump, Steve Witkoff dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Tahap pertama pembahasan adalah potensi gencatan senjata selama 45 hari. Gencatan bisa diperpanjang jika diperlukan Waktu untuk pembicaraan.

Tahap kedua adalah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Para mediator dikabarkan tengah mengupayakan langkah membangun kepercayaan agar Iran mau membuka Selat Hormuz dan mencapai solusi untuk pengayaan uranium.

Sumber mengatakan, dua isu ini adalah kartu tawar utama Iran dalam negosiasi. Iran dikabarkan tak setuju melepaskan sepenuhnya hanya untuk gencatan senjata 45 hari.

Pejabat Iran juga dikabarkan mereka tak ingin terjebak dalam situasi Gaza atau Lebanon di mana AS dan Israel dapat menyerang lagi kapanpun mereka mau.

Sedangkan mediator khawatir pembalasan Iran atas serangan AS dan Israel akan merusak fasilitas minyak dan air negara-negara teluk.

Para pejabat Iran, di depan publik, masih mengambil sikap keras dan menolak perjanjian. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengatakan situasi Selat Hormuz tak akan kembali seperti semula, terutama bagi AS dan Israel.

"Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya ketika, di bawah rezim hukum baru, kerusakan akibat perang yang dipaksakan sepenuhnya dikompensasi dari sebagian pendapatan tol transit," kata Wakil Bidang Komunikasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabaei dalam akun X. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.