Deret Fakta Gencatan Senjata AS–Iran, Disepakati 90 Menit Sebelum Deadline Trump
Amerika Serikat dan Iran resmi menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang mulai berlaku Selasa (7/4). Kesepakatan ini tercapai hanya sekitar 90 menit sebelum tenggat yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump, yakni pukul 20.00 waktu Teheran.
Pada Selasa malam waktu Amerika Serikat, beberapa jam sebelum serangan yang direncanakan, Trump menggunakan platform Truth Social untuk mengumumkan bahwa ia telah mengubah arah.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir, dari Pakistan, dan di mana mereka meminta saya untuk menunda kekuatan penghancur yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN SEPENUHNYA, SEGERA, dan AMAN Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump dikutip dari Al Jazeera, Rabu (8/4).
Respons Iran dan Syarat Penghentian Serangan
Trump membagikan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi Melalui akun Truth Social miliknya, mengindikasikan respons Iran atas peluang gencatan senjata antara kedua negara.
Dalam surat resmi tanggal 7 April 2026 yang mewakili Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Araghchi menyampaikan bahwa Teheran membuka ruang deeskalasi dengan syarat penghentian serangan terhadap wilayahnya.
“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata Kuat kami akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” tulis Araghchi dalam pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (8/4)
Ia juga menambahkan bahwa selama dua minggu ke depan, jalur pelayaran melalui Selat Hormuz akan dibuka secara terbatas melalui koordinasi dengan militer Iran, dengan mempertimbangkan aspek teknis di lapangan.
Dalam surat itu, Iran turut menyampaikan apresiasi kepada Pakistan, khususnya kepada Perdana Menteri Shehbaz Sharifdan Marsekal Lapangan Asim Munir, atas upaya mereka dalam meredakan konflik di kawasan.
“Sebagai tanggapan atas permintaan persaudaraan dari PM Sharif, serta permintaan Amerika Serikat untuk melakukan negosiasi berdasarkan proposal 15 poin, dan pengumuman Presiden AS terkait penerimaan kerangka umum proposal Iran, saya menyatakan posisi ini atas nama Iran,” demikian dikutip.
Pakistan Jadi Mediator, Diskusi di Islamabad
Kesepakatan damai ini tidak lepas dari peran mediator internasional, yakni Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Dewan Keamanan Tertinggi Iran mengatakan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) dijadwalkan akan dimulai Jumat (10/6) di Islamabad, Pakistan.
Perundingan damai dilakukan setelah Iran menyerahkan proposal 10 poin kepada AS melalui Pakistan. Iran menyebut bahwa pembicaraan itu tidak menandai berakhirnya perang. Hal ini sebagaimana disampaikan sumber dari media Iran, dikutip dari Reuters (8/4).
Sumber yang mengetahui proposal menyebutkan, Pakistan telah menyusun kerangka kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan dan membagikannya kepada kedua pihak. Skema yang diusulkan terdiri dari dua tahap, yakni gencatan senjata segera diikuti perundingan menuju kesepakatan komprehensif.
Dalam tahap awal, gencatan senjata diharapkan dapat berlaku secepatnya sekaligus membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Selanjutnya, kedua pihak diberi waktu sekitar 15 hingga 20 hari untuk merampungkan kesepakatan yang lebih luas.
Rancangan kesepakatan sementara dijuluki “Islamabad Accord”, yang juga mencakup kerangka kerja regional terkait pengelolaan Selat Hormuz. Pertemuan langsung antara pejabat tinggi kedua negara direncanakan akan digelar di Islamabad sebagai bagian dari tahap akhir negosiasi.
Selat Hormuz Jadi Kunci Utama
Salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini adalah pembukaan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Iran menyatakan akan menjamin keamanan pelayaran hingga 22 April 2026, meskipun kapal yang melintas tetap diwajibkan berkoordinasi dengan militer Iran.
Langkah ini menjadi sinyal penting bagi pasar global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor energi dari kawasan Teluk.
Proposal 10 Poin dari Iran
Pemerintah AS mengonfirmasi telah menerima proposal damai 10 poin dari Iran, yang dinilai dapat menjadi dasar negosiasi lanjutan. Pemerintah Iran belum menerbitkan secara resmi proposal 10 poin yang dimaksud. Namun kantor berita Iran, Mehr News Agency, telah mempublikasikan proposal 10 poin tersebut, yakni:
- Amerika Serikat berkomitmen untuk memastikan tidak ada aksi agresi lebih lanjut;
- Iran melanjutkan kontrol terhadap Selat Hormuz;
- Penerimaan hak program pengayaaan nuklir oleh Iran;
- Pengangkatan sanksi primer;
- Pengangkatan sanksi sekunder;
- Penghentian semua resolusi PBB yang melawan Iran;
- Penghentian semua resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional yang melawan Iran;
- Repatriasi seluruh kerusakan yang dialami Iran akibat perang;
- Penarikan seluruh angkatan militer Amerika Serikat dari kawasan;
- Penghentian pertempuran di semua sisi, termsuk Lebanon;
Sebagai timbal balik, Iran juga mempertimbangkan proposal 15 poin dari pihak AS sebagai bahan negosiasi. Gedung Putih menyebut Israel telah menyetujui gencatan senjata tersebut. Namun hingga kini, pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait kesepakatan maupun proposal damai yang diajukan Iran.
Ketidakjelasan posisi Israel menjadi salah satu faktor yang masih membayangi keberlanjutan gencatan senjata ini.
Harga Minyak Turun dan Pasar Saham Menguat Usai Gencatan Senjata AS–Iran
Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen positif dari kesepakatan ini juga mendorong penguatan pasar saham global, meski pelaku pasar masih bersikap hati-hati terhadap keberlanjutan perdamaian.
Analis dari Economist Intelligence Unit, Alex Holmes, mengatakan reli pasar dan penurunan harga minyak mencerminkan optimisme awal, namun belum ada kepastian apakah gencatan senjata akan bertahan.
“Yang perlu diperhatikan adalah sinyal dari Israel, Iran, dan pihak lain terkait apakah gencatan senjata ini akan bertahan,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Rabu (8/4).
Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (WTI) turun sekitar 16% menjadi USD 94,59 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga melemah sekitar 15% ke level USD 92,35 per barel setelah pengumuman gencatan senjata.
Penguatan juga terlihat di pasar saham Asia. Indeks Nikkei Jepang melonjak sekitar 5%, sementara indeks Kospi Korea Selatan naik hingga 6%, bahkan sempat memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) akibat lonjakan tajam.