Piala Dunia 2026 Bisa Hasilkan 9 Juta Ton CO2, Rekor Emisi Tertinggi Olahraga
Pagelaran Piala Dunia 2026 diproyeksikan akan mencatat rekor emisi gas rumah kaca terbesar dalam sejarah olahraga dengan total estimasi mencapai 9,02 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).
Jumlah itu hampir dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata edisi sebelumnya pada 2010–2022 yang menghasilkan 4,7 juta ton CO2e. Adapun pelaksanaan Piala Dunia 2022 di Qatar menghasilkan emisi sebanyak 5,2 juta ton CO2e.
Lonjakan keluaran emisi hingga 9,02 juta ton tersebut berasal dari dua sumber utama, yakni sektor mobilitas transportasi udara sekitar 7,72 juta ton CO2e dan konsumsi energi selama turnamen berlangsung. Ini terutama yang berasal dari pendingin ruangan di stadion sekitar 1,30 juta ton CO2e.
Laporan bertajuk 'FIFA’s Climate Blind Spot: The Men’s World Cup in a Warming World' yang dirilis oleh The New Weather Institute pada Juli 2025 lalu itu menghitung bahwa keluaran emisi bisa melonjak hingga 15 juta ton CO2e.
Ini jika memperhitungkan dampak tambahan dari aktivitas penerbangan secara maksimal. Jumlah emisi ini hampir 4–5 kali total emisi tahunan Islandia yang berpenduduk 380.356 jiwa pada 2022.
Lonjakan emisi pada Piala Dunia 2026 tidak lepas dari keputusan FIFA yang memperbanyak jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim nasional. Penambahan jumlah peserta ini berdampak pada peningkatan jumlah pertandingan dan mobilitas global, terutama perjalanan udara yang menjadi kontributor terbesar emisi.
Emisi dari sektor transportasi udara diperkirakan naik hingga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan turnamen sebelumnya. Perjalanan udara diperkirakan menyumbang sekitar 85% dari total emisi selama pagelaran turnamen tahun ini.
Format penyelenggaraan turnamen lintas negara di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko turut memperbesar jejak karbon. Jarak ribuan kilometer antarkota tuan rumah yang jauh membuat opsi transportasi rendah karbon hampir tidak tersedia. Kondisi ini membuat ketergantungan pada pesawat terbang tak terhindarkan.
Wilayah Amerika Utara yang sangat luas juga tidak ditopang oleh jaringan kereta cepat yang menghubungkan kota-kota tuan rumah. Akibatnya, sekitar 5,5 juta penonton diperkirakan harus berpindah dari satu laga ke laga lain dengan menggunakan pesawat untuk melintasi 16 kota di tiga negara penyelenggara.
"FIFA merupakan contoh krisis dalam tata kelola iklim di seluruh mega-event olahraga. Piala Dunia 2026 akan memperlebar kesenjangan yang sudah sangat besar antara komitmen dan pelaksanaannya," tulis laporan The New Weather Institute, dikutip Selasa (14/4).
Mereka juga menuliskan adanya ancaman nyata perubahan iklim terhadap jalannya pertandingan. Sejumlah stadion yang akan digunakan pada pesta sepak bola dunia 2026 menghadapi risiko serius panas ekstrem.
Beberapa stadion di Amerika Utara juga diperkirakan mencatatkan suhu di atas ambang batas aman untuk aktivitas olahraga yang berpotensi membahayakan pemain dan penonton.
Kondisi ini memunculkan dilema antara menjaga keselamatan atau mempertahankan jadwal pertandingan. Dalam beberapa kasus, suhu tinggi memaksa penerapan jeda pendinginan, bahkan membuka kemungkinan penghentian laga. Di sisi lain, kebutuhan pendinginan stadion justru meningkatkan konsumsi energi.
Sebagai contoh, suhu di AT&T Stadium, Dallas kerap berada di atas 35°C pada Juli tahun lalu. Situasi ini memicu adanya sistem pendingin udara berskala besar yang boros energi. Selain itu, suhu tertinggi NRG Stadium di Houston berada pada level 28,96 °C di periode serupa.
Selanjutnya, SoFi Stadium di Los Angeles menghadapi tekanan panas hingga level berbahaya sekaligus risiko kebakaran hutan yang dapat menurunkan kualitas udara secara cepat di seluruh kawasan.
Kemudian, Hard Rock Stadium di Miami berada dalam proyeksi risiko banjir yang tinggi, dengan skor risiko properti mencapai 8,1 serta paparan badai yang meningkat selama puncak musim.
"Distribusi geografis risiko-risiko ini mengungkap kelemahan mendasar dalam proses pemilihan tempat penyelenggaraan oleh FIFA," tulis laporan tersebut.
Laporan tersebut juga mengkritik hubungan komersial FIFA dengan perusahaan bahan bakar fosil. Kemitraan sponsor dari perusahaan seperti Aramco diperkirakan memicu emisi tambahan hingga 30 juta ton CO2e—jauh melampaui emisi langsung dari turnamen itu sendiri.
Selain itu, sponsor besar lain seperti Qatar Airways diperkirakan dapat memicu emisi gas rumah kaca setidaknya 3,3 juta ton CO2e. Angka tersebut bahkan berpotensi meningkat hingga 5,8 juta ton CO2e jika menggunakan asumsi tertinggi terkait efek pemanasan dari sektor penerbangan.
Bos FIFA Janji Tekan Emisi
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menghadapi perubahan iklim dan menargetkan pengurangan emisi.
Dalam forum internasional seperti COP26 di Glasgow, Skotlandia pada 2021 lalu, Infantino menyebut perubahan iklim sebagai ancaman nyata bagi sepak bola dan berjanji FIFA akan ikut berkontribusi dalam penanganan masalah lingkungan.
Infantino mengatakan stadion beratap akan digunakan untuk meredakan kekhawatiran terkait cuaca ekstrem pada Piala Dunia 2026. Ia menyampaikan hal tersebut setelah kritik muncul akibat pemain terpapar panas ekstrem selama Piala Dunia Antarklub di AS.
Infantino menyatakan pagelaran Piala Dunia 2026 akan lebih banyak berlangsung di stadion beratap untuk mengurangi dampak panas siang hari dan tekanan iklim. Sejumlah kota seperti Atlanta, Dallas, Houston, dan Vancouver telah menyiapkan stadion dengan atap tertutup serta fasilitas pendingin udara.
“Tentu saja panas adalah masalah. Tahun lalu, pada Olimpiade di Paris, pertandingan siang hari di semua cabang olahraga berlangsung dalam kondisi sangat panas," ujarnya kepada wartawan dalam konferensi pers di New York, sebagaimana diberitakan oleh ESPN pada 12 Juli tahun lalu.