Inggris dan Prancis Siapkan Pasukan Militer ke Selat Hormuz
Pemerintah Inggris dan Perancis akan menyelenggarakan pertemuan untuk mendiskusikan pengaturan pasukan laut di Selat Hormuz. Tujuan utama pengaturan militer laut untuk memastikan kebebasan navigasi di terusan tersebut.
Dilansir dari Bloomberg, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan Inisiatif Kebebasan Navigasi Maritim hanya untuk keperluan pertahanan. Menurutnya, pemimpin negara di Eropa sama sekali tidak memiliki niat untuk membuka Selat Hormuz seperti yang diinginkan Presiden Amerika Serikat Donald J Trump.
"Pembukaan Selat Hormuz dengan segera dan tanpa syarat merupakan tanggung jawab global. Kami perlu bertindak agar perdagangan dan energi global dapat kembali mengalir bebas," kata Starmer dalam keterangan resmi, Jumat (17/4).
Starmer menyampaikan implementasi Inisiatif Kebebasan Navigasi Maritim akan berlaku setelah beberapa kondisi prasyarat terpenuhi. Sebanyak 40 negara akan bergabung dalam pertemuan tersebut, termasuk industri pendukung dan usaha membersihkan Selat Hormuz dari ranjau air.
Walau demikian, pertemuan 40 negara tersebut diperkirakan tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, sebagian besar Kepala Negara di Eropa telah mengatakan akan menunggu pemerintah Amerika Serikat dan Iran selesai melakukan perundingan damai.
Secara rinci, putaran pertama negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran telah selesai dilakukan di Islamabad, Pakistan pada akhir pekan lalu, 11-12 April 2026. Perundingan tersebut digelar oleh Perdana Menteri Pakistan X dan Y.
Adapun Pemerintah Iran diwakili oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, sedangkan Pemerintah Amerika Serikat mengutus Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Akan tetapi, negosiasi putaran pertama tersebut belum menemukan kata sepakat.
Presiden Amerika Serikat Donald J Trump mengatakan ada prospek yang baik terkait tercapainya kesepakatan damai dengan pemerintah Iran. Menurutnya, Tanah Persia akan memberikan konsesi untuk memperpanjang waktu gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pekan depan, Selasa (21/4).
Iran dan Amerika Serikat sedang menggodok jadwal untuk perundingan damai ronde kedua. Ini setelah Negeri Abang Sam mulai memblokade kapal berbendera Iran yang keluar dari Selat Hormuz sejak Senin (13/4).
Dikutip dari Bloomberg, perundingan damai ronde kedua akan dilakukan sebelum masa gencatan senjata usai Selasa (21/4). Sumber Bloomberg mengatakan, kedua pihak sedang mempertimbangkan melakukan diskusi tersebut di tempat lain.
"Salah satu ide adalah kembali ke Pakistan yang menjadi lokasi negosiasi damai awal dilakukan akhir pekan lalu," kata sumber yang tidak disebutkan namanya ke Bloomberg yang dikutip Rabu (15/4).
New York Post melaporkan negosiasi damai ronde kedua dapat terjadi Rabu (15/4), atau Kamis (16/4), di Pakistan. Namun Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump mengatakan ronde kedua perundingan damai dengan Iran kemungkinan dilakukan di Eropa.
Meski demikian, Trump mengubah pernyataannya dan mengatakan negosiasi ronde kedua akan terjadi di Islamabad, Pakistan. Menurutnya, tempo negosiasi pada perundingan pertama sedikit lambat.
"Kenapa? Karena Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan melakukan pekerjaan yang sangat baik," kata Trump kepada New York Post.