Trump Tak Senang dengan Proposal Perdamaian Iran, Soal Nuklir jadi Sorotan

Instagram/White House
Presiden Amerika Serikat Donald Trump
28/4/2026, 15.24 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tidak senang dengan proposal terbaru Iran untuk menyelesaikan perang yang telah berlangsung selama dua bulan. Hal ini lantaran permintaan Iran terkait pembahasan program nuklir mereka.

Dikutip dari Reuters, seorang pejabat AS mengatakan, Iran meminta penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir. Iran juga meminta perselisihan mengenai arus logistik dari kawasan teluk diselesaikan.

Sumber tersebut mengatakan, Trump tidak senang dengan proposal Iran dan meminta permasalahan nuklir tetap harus masuk dalam poin pembahasan.

Sedangkan Juru Bicara Gedung Putih Olivia Wales mengatakan, AS tak akan lagi bernegosiasi lewat pers. Mereka juga telah menyampaikan persyaratan perundingan damai.

"(Kami) telah menjelaskan garis merah kami," kata Wales dikutip dari Reuters, Selasa (28/4).

Harapan upaya perdamaian telah memudar sejak AS membatalkan kunjungan ke Islamabad, Pakistan untuk berunding dengan Iran pada akhir pekan lalu.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dua kali bolak-balik ke ibu kota Pakistan itu selama akhir pekan. Araghchi juga mengunjungi Oman serta ke Rusia pada Senin (27/4).

Di Moskow, dia bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin dan menerima dukungan dari sekutu lamanya. Dia juga mengatakan kepada wartawan di Rusia bahwa Trump telah meminta negosiasi.

Para pejabat senior Iran, mengatakan kepada Reuters bahwa proposal yang dibawa Araghchi ke meja perundingan meminta pembicaraan dilakukan secara bertahap, dengan isu nuklir dikesampingkan terlebih dulu.

Langkah pertama yang diminta Iran adalah AS-Israel mengakhiri serangan mereka dan memberikan jaminan bahwa Negeri Abang Sam tidak memulainya lagi. Setelah itu, negosiator akan membahas blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran dan nasib Selat Hormuz.

Dengan kedua pihak yang bertikai, harga minyak melanjutkan kenaikannya pada perdagangan hari ini. "Bagi para pedagang minyak, bukan retorika yang penting lagi, tetapi aliran fisik minyak mentah melalui Selat Hormuz," kata Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.