Harga Domba Melonjak Tembus Rp 7,7 Juta, Warga Nigeria Sulit Melaksanakan Kurban

Ilustrasi AI
Ilustrasi domba kurban Nigeria
27/5/2026, 11.41 WIB

Lonjakan biaya hidup di Nigeria mulai mengubah tradisi perayaan Iduladha di negara dengan populasi Muslim terbesar di Afrika tersebut. Kenaikan harga bahan pokok, transportasi, hingga hewan ternak membuat banyak warga kesulitan membeli hewan kurban tahun ini.

Di pasar ternak Kubwa, Abuja, suasana menjelang Iduladha tidak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya. Banyak calon pembeli hanya datang untuk menanyakan harga, lalu pergi tanpa membawa pulang hewan kurban.

Seorang pedagang ternak, Malam Ibrahim, mengatakan harga domba jantan melonjak tajam dibanding tahun lalu akibat kenaikan biaya distribusi dan bahan bakar. “Domba jantan ini dijual seharga 600 ribu naira (sekitar US$ 438),” kata Ibrahim kepada Al Jazeera, Selasa (26/5). 

Jika dikonversikan ke rupiah dengan kurs sekitar Rp 17.789 per dolar AS, harga seekor domba kurban di Negeria itu mencapai sekitar Rp 7,7 juta. Padahal pada tahun lalu, domba dengan ukuran yang sama harganya di bawah 350 ribu naira atau sekitar US$ 255 yang setara Rp 4,5 juta.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga bahan bakar membuat ongkos pengiriman ternak dari wilayah utara Nigeria seperti Sokoto dan Kaduna menjadi jauh lebih mahal. “Mendapatkan hewan dari Nigeria utara menjadi lebih mahal. Harga bahan bakar, ongkos transportasi, semuanya memengaruhi biaya akhir,” ujarnya.

Ia mengaku khawatir banyak ternak tidak akan terjual hingga Iduladha usai. “Kami tidak berdoa untuk membawa mereka kembali ke rumah, tetapi melihat keadaan saat ini, saya khawatir hal itu akan terjadi,” katanya.

Tekanan ekonomi juga dirasakan masyarakat yang biasanya rutin berkurban setiap tahun. Yunus Akanji, guru agama Islam di Sekolah Islam Nurul Bayan di Abuja, mengatakan tahun ini keluarganya memilih merayakan Idul Adha secara sederhana tanpa membeli hewan kurban maupun pulang kampung.

“Saya telah menyimpulkan bahwa kita hanya akan merayakan dengan apa pun yang kita miliki,” kata Akanji.

Selama bertahun-tahun, ia biasa bepergian bersama keluarganya ke Negara Bagian Oyo untuk berkumpul dengan keluarga besar saat Idul Adha. Namun, tradisi tersebut terpaksa dihentikan karena kondisi ekonomi yang semakin berat.

Kenaikan biaya transportasi juga menjadi alasan banyak warga membatalkan perjalanan mudik. Nafisa Ibrahim, peserta program wajib Korps Layanan Pemuda Nasional di Abuja, mengaku tidak mampu pulang kampung tahun ini.

“Biaya transportasi sekitar 35 ribu naira, dibandingkan dengan 15 ribu naira yang saya bayarkan ketika datang ke Abuja pada bulan Februari,” katanya.

Biaya transportasi 35 ribu naira itu setara US$ 26 atau setara Rp 462.514. 

Dampak kenaikan biaya hidup turut dirasakan pelaku usaha kecil. Opeyemi Ibrahim, seorang perancang busana di distrik Byazhin, mengatakan jumlah pelanggan menjelang Idul Adha justru menurun drastis.

Ia menjelaskan biaya operasional meningkat akibat mahalnya bahan bakar dan pasokan listrik yang tidak stabil. Ketika tidak ada listrik, masyarakat harus menjalankan generator.

“Mengisi bahan bakarnya membutuhkan biaya sekitar 10 ribu naira (setara Rp 124.523). Tetapi tanpa itu, toko menjadi terlalu panas, dan kami masih membutuhkan listrik untuk menyetrika pakaian pelanggan,” kata Opeyemi.

Kondisi tersebut menunjukkan krisis biaya hidup di Nigeria kini tidak hanya memukul daya beli masyarakat tetapi juga mulai mengubah tradisi perayaan Idul Adha yang selama ini identik dengan mudik keluarga dan penyembelihan hewan kurban.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti