Paus Leo XIV: Perang AS di Iran Bukan Termasuk "Perang yang Adil"

Vaticannews
Paus Leo XIV
Penulis: Reza Pahlevi
7/6/2026, 07.50 WIB

Paus Leo XIV menilai perang Amerika Serikat (AS) di Iran tidak memenuhi kriteria "perang yang adil". Penilaian itu merujuk pada ajaran Gereja Katolik.

"Saya kira hal itu sudah dinyatakan dengan jelas. Tidak ada perang yang adil di sana," kata Leo XIV dikutip dari NPR, Sabtu (6/6) waktu Vatikan. 

Paus menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan dalam penerbangan menuju Spanyol. Dia menjawab pertanyaan mengenai pandangannya pada perang tersebut.

Jawaban tersebut berkaitan dengan komentar Wakil Presiden AS JD Vance pada April lalu. Saat itu, Vance menggunakan teori perang adil untuk membenarkan perang di Iran.

Vance juga mengatakan paus perlu berhati-hati saat membahas teologi. Menurutnya, teori perang adil memiliki tradisi panjang dalam ajaran Kristen.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengkritik sikap Leo. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut paus "lemah" dalam urusan perang.

Leo merujuk ensiklik terbarunya berjudul Magnifica Humanitas atau Magnificent Humanity. Dokumen itu menyebut teori perang adil sudah tidak relevan.

Menurut ensiklik tersebut, teori itu terlalu sering digunakan membenarkan berbagai perang. Karena itu, ajaran tersebut dinilai sudah ketinggalan zaman.

"Masalahnya, teori perang adil berasal dari berabad-abad lalu," kata Leo. Saat itu, manusia belum membayangkan kemampuan destruktif senjata modern.

Dokumen tersebut mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan diplomasi. Pengampunan juga disebut sebagai alternatif selain penggunaan kekuatan militer.

Menurut Leo, penggunaan kekerasan sering menimbulkan dampak besar bagi warga sipil. Karena itu, pendekatan damai harus lebih diutamakan.

Penolakan terhadap teori perang adil menjadi salah satu tema utama Vatikan. Isu itu akan dibahas dalam pertemuan para kardinal pada 26-27 Juni.

Ini bukan pertama kalinya Leo mengkritik perang di Iran. Sejak konflik dimulai Februari lalu, ia berulang kali menyerukan perdamaian.

Dalam penerbangan yang sama, Leo juga menyinggung perang di Ukraina. Ia mengaku khawatir dengan perkembangan konflik tersebut. Ia meminta semua pihak terus mendorong berakhirnya perang dan mencari solusi.

Leo juga menyerukan kelanjutan proses negosiasi damai. Menurutnya, konflik yang berlangsung lebih dari empat tahun harus segera diakhiri.

Ia turut mengakui upaya Amerika Serikat dalam memediasi perdamaian. Namun, penyelesaian permanen masih belum tercapai.

Selain itu, Leo mengaku tetap berkomunikasi dengan pemimpin agama di Lebanon. Ia pernah bertemu mereka saat berkunjung pada November lalu.

"Situasinya sangat kompleks," kata Leo mengenai Lebanon. Pernyataan itu disampaikan ketika Israel melanjutkan ofensif di wilayah selatan negara tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.