Membedah Isi 14 Poin Kesepakatan Perjanjian Damai AS dan Iran
Nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bertujuan untuk memperluas gencatan senjata dan melancarkan lalu lintas melalui Selat Hormuz. Namun, perjanjian itu menyisakan banyak detail untuk dibahas kemudian, termasuk subjek sensitif program nuklir Iran.
AS menjanjikan banyak uang kepada Iran, dengan mencabut sanksi, memberikan izin kepada Iran untuk menjual minyaknya ke dunia, bahkan berpotensi memberi Iran akses ke miliaran aset beku dan pendanaan sebesar US$ 300 miliar atau Rp 5.534,4 triliun (kurs Rp 17.848 per US$).
Berikut ini detail 14 poin perjanjian AS dan Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 beserta penjelasannya seperti dikompilasi oleh CNN.
1. Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran beserta sekutu-sekutunya dalam perang saat ini menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) ini untuk menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon. AS dan Iran berjanji mulai sekarang untuk tidak memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain, dan untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain, serta menjamin integritas teritorial dan kedaulatan Lebanon. Kesepakatan akhir akan mengkonfirmasi penghentian permanen perang di semua front, termasuk di Lebanon dan ketentuan lain dalam paragraf ini.
Meskipun poin pertama ini menyebutkan “sekutu mereka”, poin ini tidak secara eksplisit menyebutkan Israel atau Hizbullah. Hal ini penting karena meskipun pemerintah AS melancarkan perang terhadap Iran bersama-sama dengan Israel, aksi militer Israel di Lebanon melawan Hizbullah telah mempersulit upaya untuk mencapai kesepakatan damai ini, sehingga kerja sama negara Yahudi – atau keinginan untuk menjadi perusak – akan menjadi faktor kunci.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada Jake Tapper dari CNN bahwa paragraf ini juga berarti, “Iran harus berhenti mendanai organisasi teroris yang melakukan kekerasan, mereka harus berhenti mendanai ketidakstabilan regional.”
2. AS dan Republik Islam Iran berjanji untuk saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing serta menahan diri dari campur tangan dalam urusan internal masing-masing.
Ini adalah poin yang penting secara simbolis. Hal ini menunjukkan AS setuju untuk tidak memicu oposisi terhadap rezim Iran atau mendorong perubahan rezim. Dalam melancarkan perang, Trump telah mengatakan kepada rakyat Iran bahwa momen kebebasan mereka dari rezim sudah dekat. Tampaknya hal itu tidak lagi menjadi pemikiran pemerintah AS.
3. AS dan Republik Islam Iran berkomitmen untuk bernegosiasi dan mencapai kesepakatan akhir dalam waktu maksimal 60 hari, yang dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.
MoU ini merupakan kesepakatan untuk mencapai kesepakatan akhir. Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian dilaporkan menandatanganinya pada 17 Juni 2026. Ini berarti batas waktu 60 hari akan berakhir pada 16 Agustus 2026. Namun, tentu saja, batas waktu tersebut dapat diperpanjang.
Ada beberapa tanggal penting yang akan datang dalam kalender Iran yang mungkin memengaruhi kecepatan pembicaraan, termasuk hari raya keagamaan Islam Ashura pada 25 Juni dan pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung selama beberapa hari. Proses tersebut akan berlangsung di Iran dari 4 Juli hingga 9 Juli.
4. Segera setelah penandatanganan MOU ini, AS akan mulai mencabut blokade angkatan lautnya dan segala gangguan atau hambatan terhadap Republik Islam Iran, dan akan sepenuhnya mengakhiri blokade angkatan laut dalam waktu 30 hari. Selama periode ini, lalu lintas kapal akan sebanding dengan jumlah lalu lintas pra-perang yang dipulihkan oleh Republik Islam Iran. AS selanjutnya berjanji untuk menarik pasukannya dari dekat Republik Islam Iran dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan akhir.
Yang belum dibahas di sini adalah apakah Iran pada akhirnya akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. AS memiliki waktu hingga 19 Juli untuk sepenuhnya mencabut blokade angkatan lautnya. Poin ini juga menunjukkan AS akan menarik pasukan dari "wilayah sekitarnya."
Poin ini tidak mungkin ini merujuk pada pasukan AS yang ditempatkan di berbagai negara di Teluk Persia, tetapi mungkin mengacu pada sekitar 50.000 anggota militer AS tambahan yang dikerahkan ke wilayah tersebut selama perang.
5. Setelah penandatanganan Nota Kesepahaman ini, Republik Islam Iran akan melakukan upaya terbaiknya untuk memastikan kelancaran lalu lintas kapal komersial tanpa biaya, hanya selama 60 hari, dari Teluk Persia ke Laut Oman dan sebaliknya. Lalu lintas kapal komersial akan segera dimulai, dan dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk menghilangkan hambatan teknis dan militer serta pembersihan ranjau oleh Republik Islam Iran, hal tersebut akan diberlakukan dalam waktu 30 hari.
Republik Islam Iran akan melakukan dialog dengan Kesultanan Oman untuk menentukan administrasi dan layanan maritim di masa depan di Selat Hormuz dalam diskusi dengan negara-negara pesisir Teluk Persia lainnya sesuai dengan hukum internasional yang berlaku dan hak kedaulatan negara-negara pesisir Selat Hormuz.
Iran setuju untuk mengizinkan lalu lintas kapal tanker melewati Selat Hormuz tanpa hambatan dan tanpa biaya atau pungutan, tetapi hanya selama 60 hari yang tercakup dalam Nota Kesepahaman ini. Di masa mendatang, Iran dan negara-negara tetangganya di Teluk Persia, termasuk Oman, akan menentukan sistem baru yang menurut Nota Kesepahaman ini akan sesuai dengan hukum internasional.
Hal ini menunjukkan bahwa mungkin akan ada biaya baru untuk lalu lintas Selat Hormuz di masa mendatang, yang berpotensi menjadi konsesi besar dari AS dan aliran pendapatan baru yang permanen bagi Iran, jika hal itu terjadi.
6. AS, bersama dengan mitra regional, berkomitmen untuk mengembangkan rencana definitif yang disepakati bersama dengan dana setidaknya US$ 300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Republik Islam Iran. Mekanisme implementasi rencana ini akan diselesaikan sebagai bagian dari kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari. Semua lisensi, pengecualian, dan izin yang diperlukan untuk transaksi keuangan terkait akan diberikan oleh Amerika Serikat.
Pada akhir musim panas tahun ini, Iran dapat mengakses US$ 300 miliar untuk pembangunan ekonomi. Ini adalah jumlah uang yang sangat besar yang jauh melebihi nilai aset Iran yang dibekukan atau apa yang akan diperolehnya melalui biaya yang dikenakan kepada kapal untuk melewati Selat Hormuz selama bertahun-tahun.
Angka ini juga besar mengingat Trump sering mengeluh bahwa Iran diberi akses ke jumlah uangnya sendiri yang jauh lebih kecil setelah menandatangani Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA). Perlu dicatat bahwa dana US$ 300 miliar ini — uang investasi yang menurut Trump akan berasal dari negara-negara Teluk — tampaknya berbeda dari uang yang dapat diperoleh Iran melalui penjualan minyaknya, tetapi tidak ada detail yang diberikan.