Arab Saudi-Houthi Saling Serang, Kantor Pusat Aramco Jadi Sasaran Houthi
Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman kembali saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi. Houthi yang didukung Iran itu kembali menyasar ibu kota Arab Saudi dan tampaknya menghantam kantor pusat raksasa minyak negara Saudi, Aramco.
Menurut laporan CNN yang mengutip pernyataan pihak berwenang Saudi, sebuah gedung administrasi milik Aramco di Kota Dhahran, Provinsi Timur—tempat kantor pusat perusahaan itu berada—menjadi sasaran serangan. Insiden ini menyebabkan kebakaran berskala kecil, namun belum jelas apakah hal itu disebabkan oleh hantaman langsung atau jatuhan puing. Tidak ada laporan mengenai korban luka.
Koalisi pimpinan Saudi juga menyatakan telah mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah serta dua pesawat nirawak (drone) yang mengarah ke wilayah Riyadh dan wilayah selatan Arab Saudi. Menurut pihak berwenang Saudi, setidaknya empat orang terluka akibat jatuhan puing.
CNN telah menghubungi Aramco untuk meminta tanggapan mengenai hal ini.
Peristiwa ini menandai eskalasi terbaru antara kedua belah pihak, menyusul serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) mematikan oleh kelompok Houthi yang sempat melumpuhkan bandara internasional utama Riyadh.
Serangan balasan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Arab Saudi menyerang sebuah depot bahan bakar penting pada hari Selasa (13/10). Saudi mengklaim fasilitas itu digunakan oleh pemberontak Houthi untuk mendukung serangan terhadap bandara dan fasilitas energi kerajaan, serta serangan terhadap lalu lintas pelayaran di Laut Merah.
Sebelumnya, perusahaan minyak Yaman yang dikuasai Houthi menyatakan fasilitas tersebut tidak menyimpan stok produk minyak bumi, sehingga serangan itu tidak akan berdampak pada cadangan atau pasokan bahan bakar.
Menurut pihak Houthi, serangan tersebut menewaskan dua warga sipil dan melukai dua orang lainnya, meskipun koalisi pimpinan Arab Saudi menegaskan mereka telah memperingatkan warga sipil untuk meninggalkan lokasi tersebut sebelumnya.
"Operasi ini berfokus untuk melumpuhkan kemampuan yang digunakan milisi Houthi guna mengancam Kerajaan Arab Saudi, Yaman, wilayah selatan Laut Merah, dan koridor maritim," kata juru bicara koalisi, Mayjen Turki al-Maliki, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip CNN.
Peristiwa ini terjadi di tengah tanda-tanda bahwa konflik berkepanjangan tersebut—yang kembali berkobar pada musim panas ini dan memanas bulan lalu setelah sempat relatif tenang selama bertahun-tahun—terus meningkat eskalasinya.
Pada Selasa (13/10), koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan ke arah wilayah timur. Satu rudal lainnya yang ditujukan ke Haradh di dekat perbatasan Yaman. Koalisi tersebut juga melaporkan keberhasilan mencegat tiga pesawat nirawak (drone) milik Houthi di sebelah utara Riyadh.
Sementara itu, saluran televisi Al Masirah yang dikelola Houthi melaporkan tembakan artileri oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di provinsi Saada melukai tiga warga Yaman dan dua penduduk asal Afrika di distrik Baqim. Saluran tersebut kemudian melaporkan tewasnya dua warga sipil dan luka-lukanya dua orang lain akibat tembakan artileri yang menghantam desa-desa permukiman di distrik perbatasan Shada, Saada, serta melaporkan adanya serangan di Sanaa dan beberapa provinsi lainnya. CNN tidak dapat memverifikasi laporan-laporan tersebut secara independen.
Houthi Membalas Blokade Arab Saudi
Konflik ini semakin memanas sejak kelompok Houthi mengumumkan tanggapan atau balasan terhadap blokade Arab Saudi di ibu kota Yaman pada Juli lalu. Mereka akan menargetkan kapal-kapal Saudi di Laut Merah serta infrastruktur di dalam wilayah kerajaan tersebut.
Serangan-serangan itu telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, termasuk serangan berulang terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Di bandara tersebut, sebanyak 13 orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka pada hari Sabtu (10/10) dalam peristiwa yang tercatat sebagai serangan paling mematikan terhadap Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.
Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, dan Kanada termasuk di antara negara-negara yang kini memperingatkan warganya agar tidak menggunakan bandara tersebut. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS memperluas pembatasan perjalanan bagi pegawai pemerintah AS di kerajaan tersebut, dengan menyatakan bahwa para pegawai kini memerlukan izin khusus dari kepala perwakilan untuk menggunakan bandara mana pun di Arab Saudi.
Serangan-serangan tersebut juga telah menyingkap kerentanan dalam kemampuan pertahanan kerajaan itu saat mereka melancarkan kampanye udara untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang sedang memerangi kelompok Houthi di medan tempur darat.
Pada Selasa (13/10), pasukan pemerintah Yaman mengklaim telah terus mencatat kemajuan dalam operasi militer yang diberi nama "Fajar Yaman" (Dawn of Yemen). Dalam 24 jam terakhir, pasukan mereka telah melancarkan 2.200 serangan terhadap posisi-posisi Houthi, menewaskan sekitar 1.200 petempur serta menghancurkan atau melumpuhkan lebih dari 440 kendaraan militer dan aset lainnya.
Sementara itu, kelompok Houthi bersumpah akan melancarkan serangan lanjutan terhadap target-target ekonomi dan penerbangan di wilayah Arab Saudi, seraya memperingatkan bahwa mereka akan menyasar fasilitas milik Aramco serta Bandara Internasional King Khalid jika pasukan Saudi terus menyerang mereka.