Luhut Disorot Bandingkan Kematian Covid-19 di Indonesia dengan AS

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) berbincang dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) sebelum mengikuti rapat terbatas (ratas) di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020).
Editor: Yuliawati
15/4/2020, 11.31 WIB

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mendapat sorotan karena membandingkan angka kematian infeksi virus corona atau Covid-19 antara Indonesia dan Amerika Serikat. Luhut menyebut angka kematian di Indonesia  lebih sedikit dibandingkan Amerika Serikat.

"Buat saya tanda tanya, kenapa jumlah meninggal sampai hari ini — maaf sekali lagi — enggak sampai 500 orang padahal penduduk Indonesia 270 juta jiwa?" kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Selasa (14/4).

Luhut mengacu pada data Satgas Covid-19 yang mencatat hingga 14 April 2020, kasus positif corona di Indonesia sebanyak 4.839 orang dengan jumlah meninggal sebanyak 459 orang.

(Baca: Kasus Positif Corona AS 600 Ribu, Trump Ancam Lagi Tarik Dana di WHO)

Angka tersebut dibandingkan dengan Amerika Serikat yang menurut situs Worldometer per 15 April jumlah kasus positif 613.886 orang dengan kematian 26.047 orang. Padahal, kata Luhut, jumlah penduduk AS dan Indonesia terpaut 60 juta. "Beda penduduk 60 juta, jumlah kasus yang meninggal di AS 22.000 orang," kata dia.

Luhut juga menyatakan kemungkinan di Indonesia masih kurang pengecekan tes corona, sehingga dia berasumsi angka positif corona di Indonesia dikalikan dengan 10 dan jumlahnya masih lebih tinggi AS.  

Luhut mengatakan, pemerintah masih terus mengkaji kebijakan dalam menangani pandemi Covid-19. Dia mengatakan kebijakan yang diambil akan hati-hati. "Jadi untuk menyikapi ini, yang ingin saya jelaskan, itu juga harus hati-hati. cermat, tidak grasa- grusu, harus pas," kata dia.

Dia menyatakan pemerintah berusaha cermat mengambil kebijakan dengan memberlakukan jaringan pengaman sosial, kartu prakerja, bantuan langsung tunai.



Pernyataan Luhut mendapat komentar di antaranya dari politikus PKS Tifatul Sembiring dan politikus Partai Demokrat Rachland Nashidik.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, menyebut seharusnya Luhut tidak melihat jumlah orang yang meninggal berdasarkan angka statistik semata. "Tapi ini nyawa manusia, bang. Manusia Indonesia. Abang enggak bisa lihat dari sisi statistiknya saja," cuit Tifatul melalui akun Twitter @tifsembiring.

Pendapat mirip diutarakan Rachlan Nashidik. "Statistik, Bung. Ini semua cuma statistik. Perasaan, empati, itu urusan psikolog -- bukan pemerintah," kata Rachland lewat akun Twitter @RachlandNashidik.

Dalam artikel opini Kepemimpinan Antisains tulisan Ahmad Arif, diulas mengenai penyebab AS gagal membendung virus corona. Penyebabnya karena Presiden AS Donald Trump yang menyangkal bahaya corona. Selama periode Januari hingga Februari 2020, Trump menyangkal korona sebagai ancaman, dan menyebutkan, “virus dari China itu, secara ajaib akan hilang sendiri.”

Ahmad mengutip Washington Post (5/4/2020) yang menyebut  kegagalan birokrasi yang dipimpin Trump menyebabkan AS kehilangan kesempatan memitigasi wabah. Masalah ini bermula dari buruknya penapisan, atau pemeriksaan spesimen untuk memisahkan orang yang terinfeksi dan yang sehat.

Sekalipun saat ini AS telah memeriksa 2,8 juta spesimen atau 8.557 spesimen per 1 juta penduduk, tetapi jumlah ini dianggap masih kurang. Di California saja, antrean spesimen yang menunggu diperiksa mencapai 57.000 pada akhir Maret 2020.

Ahmad juga mengutip Majalah Nature (9/4/2020) yang menyebutkan, banyak laboratorium akademik di AS yang siap dan mampu mendiagnosa tidak digerakkan, bahkan ditolak saat mengulurkan bantuan karena sistem yang terpusat, dan birokrasi yang buruk.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto