Kominfo: Jelang Pemilu, Jumlah Hoaks Meningkat Signifikan

ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK
Warga mengangkat poster bertulis penolakan terhadap hoaks jelang Pemilu 2019 saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (3/2/2019). Aksi tolak hoaks tersebut digelar untuk mewujudkan pesta demokrasi yang aman dan damai.
6/4/2019, 14.44 WIB

Jelang pencoblosan pemilu serentak pada 17 April mendatang, sebaran hoaks semakin meningkat pesat. Hal tersebut berdasarkan laporan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang menyampaikan bila sepanjang empat bulan terakhir ini, sebaran hoaks di indonesia meningkat signifikan.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Henri Subiakto mengatakan bila sepanjang bulan Desember tahun 2018 hingga Maret 2019 angka isu hoaks yang beredar semakin meningkat. "Angkanya bulan Maret 453 isu hoaks, Februari 353, Januari 175, dan bulan Desember 75. Mendekati pilpres naik signifikan," ujar Henri saat ditemui usai acara diskusi di Jakarta, Sabtu (6/4).

Henri juga menuturkan bila saat ini pihaknya sudah bekerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk meningkatkan intensitas dan pengawasan berbagai konten di media sosial.

(Baca: Jelang Pilpres 2019, Hoaks Server KPU Menangkan Jokowi Masif Tersebar)

"KPU dan Bawaslu bilang ini berbahaya, langsung kami take down. Kami bersama terus dengan mereka, ada timnya. dan itu bagian dari upaya untuk menghilangkan konten yang membahayakan keberlangsungan demokrasi kita," ujar Henri.

Namun, ia menjelaskan bila proses take down bisa dilakukan Kominfo apabila hoaks tersebut bersumber dari sebuah situs. Kalau hoaks tersebut bersumber dari sebuah akun media sosial dan sudah menyebar, Kominfo tidak dapat berbuat banyak untuk men-take down hoaks tersebut. "Yang bisa kita lakukan yakni melakukan klarifikasi," kata Henri.

Lebih lanjut Henri juga menilai bila hoaks kini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perpolitikan. Bahkan tidak hanya yang terjadi di Indonesia saja, namun di luar negeri pun juga sama.  "Sama juga di luar negeri, itu hampir sekarang semua proses politik di era demokrasi digital ini ada yang memanfaatkan hoaks. Makanya media ingatkan pada publik jangan percaya kepada hoaks," ujarnya.

Selain itu Henri juga menghimbau dan berpesan kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya kepada konten yang membuat resah. "Indonesia harus tetap satu dan 17 April siapapun yang menang kita terima," kata Henri.

(Baca: Jelang Pemilu, WhatsApp Gandeng Mafindo Rilis Saluran Pelaporan Hoaks)

Reporter: Verda Nano Setiawan