PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak usaha PT Pertamina (Persero), meraih kinerja yang berbeda pada dua blok minyak dan gas bumi (migas) yang dikelolanya. Selama periode Januari hingga Mei lalu, produksi minyak Blok Offshore North West Jawa (ONWJ) belum mencapai target. Berbeda dengan kinerja produksi Blok West Madura Offshore (WMO) yang telah melampaui target.

Produksi minyak PHE ONWJ hingga akhir Mei lalu sebesar 37.112 barel minyak per hari (bph). Angka ini lebih rendah dari target yang ditetapkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan atau Work Program and Budget (WP&B) 2016 sebesar 37.300 bph maupun realisasi tahun lalu yang mencapai 40 ribu bph. (Baca: Kufpec Minta Waktu Hingga September Putuskan Blok ONWJ)

Sedangkan produksi gas Blok ONWJ hingga Mei lalu sebesar 172,5 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Jumlahnya lebih tinggi dari target dalam WP&B sebesar 163 mmscfd. Namun, lebih rendah kalau dibandingkan realisasi produksi tahun lalu yang mencapai 178 mmscfd.

Presiden PHE ONWJ Irwansyah mengatakan, pencapaian produksi tahun lalu diperoleh melalui upaya pengeboran, workover atau kerja ulang, wellservice atau perawatan sumur migas dan pengembangan lapangan GG. Selain itu, perbaikan dan perawatan fasilitas produksi.

"Mempertahankan level produksi 40 ribu barel per hari di tahun 2015 bukan pekerjaan mudah di tengah kondisi harga minyak dunia yang rendah,” kata dia, dalam siaran pers Pertamina, Rabu (22/6).

Tahun lalu, PHE ONWJ sudah mengebor sumur pengembangan sebanyak enam sumur dan workover sebanyak 10 sumur. Upaya tersebut menyumbang produksi minyak sekitar 2.200 bph dan gas sekitar 3,2 mmscfd. (Baca: Pemerintah Kurangi Target Pengeboran Hingga 202 Sumur Migas)

Selain itu, tambahan produksi gas juga didapat dari Lapangan GG yang telah beroperasi penuh pada 2015. Tambahan produksi gas dari lapangan itu sebesar 20 mmscfd sehingga turut menopang pencapaian produksi PHE ONWJ tahun lalu.

Sementara itu, produksi minyak Blok WMO hingga Mei lalu mencapai 1.0411 bph. Ini lebih tinggi dari target yang ditetapkan SKK Migas dalam WP&B 2016 sebesar 9.300 bph. Namun, masih lebih rendah dari pencapaian sepanjang 2015 yang sebesar 13.453 bph.

Untuk gas bumi, WMO berhasil mencatatkan produksi sebesar 105,735 mmscfd. Jumlahnya lebih tinggi dari target WP&B yang ditetapkan 102,6 mmscfd dan realisasi sepanjang tahun lalu yang mencapai 103,84 mmscfd. (Baca: Menteri ESDM Setujui Revisi Kontrak Blok WMO)

Presiden PHE WMO Sri Budiyani mengatakan, kondisi harga minyak dunia yang masih rendah dalam dua tahun terakhir ini sangat berpengaruh terhadap aktivitas operasi Blok WMO. Apalagi, PHE WMO menghadapi tantangan laju penurunan produksi alamiah migas yang mencapai 50 persen.

Selama Januari hingga Mei 2016, PHE WMO mengklaim berhasil menekan penurunan laju produksi hingga 10 persen. Targetnya, penurunan produksi sampai akhir tahun nanti bisa diperkecil hanya 20 persen. Caranya melalui wellwork atau pengerjaan sumur dan optimalisasi produksi sehingga menambah produksi minyak sekitar 1.183 bph dan gas 18,2 mmscfd.