Pemerintah Ajak Swasta Investasi Pengembangan Vaksin Merah Putih

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menyampaikan paparan saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2021).
Penulis: Doddy Rosadi
13/3/2021, 15.20 WIB

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak swasta untuk terlibat dalam proses produksi vaksin Merah Putih. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan sudah dalam proses mencari mitra strategis.

"Swasta yang bisa diajak dua kelompok satu perusahaan farmasi besar dan perusahaan yang biasa produksi vaksin untuk hewan," kata Bambang, beberapa waktu lalu.

Pihak swasta yang sudah terkonfirmasi untuk mendukung hilirisasi Vaksin Merah Putih saat ini adalah Biotis Pharmaceuticals Indonesia yang bekerja sama dengan pengembangan Vaksin Merah Putih oleh Universitas Airlangga, di bawah koordinasi dengan PT Bio Farma.

Bambang mengatakan terdapat enam platform pengembangan vaksin Merah Putih, dan di antaranya empat platform pengembangan yang perlu pendampingan mitra. Dia menyebutkan menunggu peran swasta dalam pengembangan bibit vaksin oleh Universitas Indonesia dengan platform DNA, dan Institut Teknologi Bandung dengan metode Adenovirus.

Dia mengatakan ingin mengajak swasta yang tak hanya terlibat dalam proses akhir atau pengemasan, tapi juga dalam proses pengembangan. "Yang kami butuhkan adalah mereka mau masuk sedikit ke hulu yaitu proses optimasi, purifikasi, karakterisasi dan seterusnya," ujar Bambang.

Dalam mendorong percepatan pengembangan vaksin Merah Putih, Bambang mengatakan BPOM akan memperpendek waktu uji klinis dari biasanya butuh 18 bulan untuk uji klinis fase 1-3 dapat ditempuh delapan bulan. "Karena bisa dilakukan paralel, misalnya saat tahap 2 belum selesai, tahap ketiga sudah bisa dimulai," kata dia.

Bambang mengatakan bibit vaksin Merah Putih yang dikembangkan oleh Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman dengan platform protein rekombinan mamalia based ditargetkan akan rampung dan siap diserahterimakan ke Bio Farma pada akhir bulan ini untuk dilakukan tahap lanjutan hilirisasi vaksin.

Serah terima  seed vaccine (bibit vaksin) ini tidak dilakukan dengan block-to-block, akan tetapi sudah dilakukan mulai dari sekarang dengan cara paralel dikerjakan bersama-sama oleh LBM Eijkman dan Bio Farma.

Bambang mengatakan, dengan jumlah penduduk yang tidak sedikit, Indonesia dirasa perlu memiliki kemandirian dalam ketersediaan vaksin. Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia bisa mencontoh negara lain dalam program vaksin mandiri.

Salah satunya adalah India yang saat ini sudah berhasil memproduksi vaksin. Bambang berharap Vaksin Merah Putih yang dikembangkan di dalam negeri dapat menjadi basis negara untuk memiliki kemandirian di dalam penyediaan dan pengembangan vaksin nasional. "Meskipun Indonesia belum berpengalaman memproduksi dari nol, namun saya rasa Indonesia mampu," ujar Bambang.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan