BMKG Prediksi Badai La Nina Terjadi Akhir 2021, Waspada Cuaca Ekstrem

ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/foc.
Subarti (40), berjualan sayur melewati genangan banjir di Desa Karangjati, Sampang, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (27/10/2020). Hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Jateng akibat dampak dari fenomena La Nina, selama dua hari terakhir, menyebabkan banjir dan longsor pada sejumlah wilayah di Kabupaten Kebumen, Cilacap, dan Banyumas.
27/8/2021, 09.14 WIB

Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan mengalami cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina pada akhir  tahun ini. La Nina kembali terjadi di Indonesia akibat peningkatan masa udara basah dari Samudera Pasifik menuju Indonesia.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan saat ini kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang dalam keadaan netral dapat berkembang menjadi La Nina pada akhir tahun 2021. Sementara itu, Indian Ocean Dipole Mode (IOD) Netral diprediksi bertahan setidaknya hingga Januari 2022.

“Keduanya adalah faktor iklim yang penting yang mempengaruhi variabilitas curah hujan di Indonesia terutama pada skala waktu inter annual,” kata dia dalam konferensi pers virtual, Kamis (26/8).
Fenomena La Nina merujuk saat  Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Dengan kondisi tersebut, La Nina akan mengakibatkan curah hujan dengan intensitas tinggi di Indonesia. Pada 2020, La Nina menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat 40%, bahkan di beberapa wilayah sampai 80%. Tahun lalu curah hujan meningkat hingga 40%, bahkan di beberapa wilayah sampai 80%.
"Ini ada peluang akan terjadi kembali di akhir tahun nanti,” katanya.

Meski demikian, sejumlah prakiraan lain lewat Indian Ocean Dipole menyebutkan fenomena cuaca di Samudera Pasifik tak akan berdampak buruk atau netral terhadap cuaca di Indonesia.
"Meskipun, Indian ocean dipole atau indeks untuk memprediksi apakah akan terjadi penambahan masa udara basah dari Samudera Hindia, ini menunjukkan netral. Artinya peluang itu relatif tidak ada," kata dia.

Menghadapi kemungkinan La Nina, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai cuaca ekstrem pada Desember mendatang. Kondisi ekstrem meliputi, hujan lebat disertai petir dan angin puting beliung. Hal ini berpotensi akan mulai terjadi pada September hingga awal Januari 2022.
"Ini mohon masyarakat untuk mewaspadai angin kencang puting beliung, kemudian hujan es juga berpotensi terjadi. Kemudian dalam satu hari, dapat terjadi cuaca yang tidak menentu," kata dia.

Sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi akan mengalami musim hujan lebih besar dari biasanya saat La Nina datang. Di antaranya sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Riau bagian selatan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian barat hingga selatan, Sulawesi, Maluku Utara bagian barat, Pulau Seram bagian selatan dan Papua bagian selatan.
"Puncak musim hujan periode 2021/2022 sendiri diprediksi terjadi pada Januari dan Februari 2022," ujarnya.

Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 14,6% zoba diprediksi mengawali musim hujan pada September 2021, meliputi Sumatera bagian tengah dan sebagian Kalimantan. 
Kemudian 39,1% wilayah pada Oktober 2021, meliputi Sumatera bagian selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali. Sementara itu, sebanyak 28,7 persen wilayah lainnya pada November 2021, meliputi sebagian Lampung, Jawa, Bali - Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Dengan wilayah yang berbentuk kepuluan, badai La Nina kemungkinan tidak hanya akan mengganggu  transportasi tapi juga jalur logistik bahan pangan.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi