Jejak ACT dari Aksi Kemanusiaan hingga Dugaan Gelapkan Donasi Umat

ANTARA FOTO/Aloyisus Jarot Nugroho
Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) berpose seusai kegiatan sosial di Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (6/11/2019).
5/7/2022, 19.03 WIB

Lembaga donasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) tengah digoyang dugaan penyelewengan dana umat untuk kepentingan para petingginya. Hal ini berawal dari laporan yang diterbitkan Majalah Tempo dengan tajuk "Kantong Bocor Dana Umat".

Jajaran pimpinan ACT diduga menggunakan dana lembaga untuk keperluan pribadi, seperti membeli rumah, perabotan, hingga transfer uang bernilai belasan miliar ke keluarganya.

Hal ini lalu menimbulkan kegusaran masyarakat. Bahkan tagar 'Aksi Cepat Tilep' sempat menjadi trending di Twitter pada Senin (5/7).

Bagaimana awalnya ACT menjadi besar dengan menggalang dana masyarakat?

Dikutip dari sejumlah sumber, ACT berawal dari kegiatan pendirinya, Ahyudin saat menangani dampak gempa bumi di Liwa, Provinsi Lampung pada 1994 lalu. Sebelas tahun kemudian, tepatnya 21 April 2005, yayasan ACT yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan resmi terbentuk.

Mereka aktif untuk menyalurkan bantuan ke tempat-tempat bencana. Dari kegiatan tanggap darurat, ACT lalu mengembangkan aktivitas ke pemberdayaan masyarakat serta program berbasis spiritual seperti qurban, zakat, dan wakaf.

ACT lalu semakin besar dan telah menembus 30 provinsi dan 100 kabupaten serta kota di seluruh Indonesia. Mreka lalu mencanangkan perubahan menjadi sebuah lembaga kemanusiaan global.

Mereka membentuk representasi untuk menjangkau program donasi mereka hingga 22 negara. Beberapa kawasan dengan keberadaan ACT adalah Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa Timur.

Tak terbatas pada bencana alam, mereka juga berinisiatif memberikan bantuan pada korban konflik, peperangan, serta penindasan kelompok minoritas. Bahkan hingga berita ini ditulis, ACt juga masih membuka pendaftaran donasi untuk Palestina dengan judul 'Rebut Kembali Palestina'.

ACT juga membuat program modal usaha mikro bagi petani dan pedagang kecil terbebas dari keterpurukan ekonomi. Skemanya menggunakan wakaf yang dikumpulkan Global Wakaf ACT.

Seiring besarnya ACT, yayasan tersebut kerap digandeng pemerintah dan pihak lain untuk menyalurkan bantuan. Bahkan, Ahyudin juga sempat diundang Wakil Presiden RI 2014-2019 Jusuf Kalla ke Kantor Wapres untuk melepas bantuan kemanusiaan untuk Somalia.

Semakin besar, donasi yang mereka salurkan semakin membengkak. Pada 2018, ACT tercatat menggalang dana senilai Rp 516,4 miliar. Adapun jumlah yang disalurkan mencapai Rp 509 miliar.

Meski demikian, badai mulai menghampiri ACT dan Ahyudin usai 17 tahun yayasan ini berdiri. Sang pendiri dikabarkan harus lengser dari jabatannya sendiri sebagai bos usai ditekan 40 orang anak buahnya.

Tak hanya itu, mereka dibelit isu potongan donasi 13,5% untuk operasional yayasan, di atas ketentuan pemerintah yakni 10%. Belum lagi, adanya kabar gaji Ketua Dewan Pembina hingga Senior Vice President sebesar Rp 150 hingga Rp 250 juta sebulan.

Buntutnya, informasi ini membuat masyarakat mempertanyakan transparansi ACT dalam kerja kemanusiaan. Namun Presiden ACT Ibnu Khajar mengatakan seluruh fasilitas operasional hingga gaji telah dikurangi.

"Supaya dana bisa difokuskan fokus pada program lembaga," kata Ibnu Khajar dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/7) dikutip dari Antara.

Buntutnya, kepolisian ikut mendalami dugaan penyelewengan dana ini. Selain itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengevaluasi sejumlah program kerja sama yang dilaksanakan dengan ACT.

Reporter: Antara