Wapres Minta Semua Ormas Bertemu untuk Cegah Polarisasi Pemilu 2024

ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.
Wakil Presiden Ma'ruf Amin (tengah) didampingi Gubernur Bali Wayan Koster (kanan) memberikan keterangan kepada media di sela pembukaan The 18th Asia Media Summit 2023 di Nusa dua, Badung, Bali, Selasa (23/5/2023).
26/5/2023, 15.57 WIB

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyambut baik pertemuan antara pengurus Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah pada Kamis (26/5). Ma'ruf mendorong semua organisasi masyarakat mengadakan hal yang sama untuk menghadapi Pemilihan Umum 2024.

Hasil pertemuan NU dan Muhammadiyah adalah sepakat untuk mencegah terjadinya polarisasi di masyarakat akibat Pesta Demokrasi tahun depan. Ma'ruf mengatakan seluruh ormas sebaiknya bertemu untuk membicarakan strategi pencegahan ancaman polarisasi pada 2024.

"Sebaiknya ormas-ormas mengadakan pertemuan bersama untuk mencegah terjadinya polarisasi dan pembelahan masyarakat," kata Ma'ruf dalam saluran resmi Sekretariat Wakil Presiden yang dikutip Jumat (26/5).

Ma'ruf menilai ormas adalah kelompok strategis masyarakat dengan peran yang sama seperti partai politik. Oleh karena itu, ia berpendapat peran ormas menjadi penting, khususnya selama Pemilu.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf mengingatkan pentingnya kepemimpinan moral pada pemilu 2024 mendatang. Menurut dia persoalan ini harus menjadi isu yang digaungkan setiap calon presiden dan wakil presiden dan calon legislatif yang ikut dalam kontestasi pemilu dan pilpres.  

"Hal tersebut diperlukan untuk menjalankan kompetisi secara lebih bermoral, lebih bersih, tidak membuat polarisasi maupun perpecahan dalam masyarakat,” kata Yahya di Kantor PBNU, Kamis (25/5).

Yahya menyampaikan para kandidat dalam Pemilu 2024 perlu memberikan keteladanan sikap dengan membuat seruan-seruan terkait dengan moral. Meski begitu, Yahya mengatakan pertemuan dengan Muhammadiyah tidak membuahkan kesepakatan tertulis.  

Lebih jauh ia menyebut PBNU berencana menggelar diskusi kebangsaan sebagai agenda rutin dengan Muhammadiyah. Pasalnya, Yahya menilai tuntutan kerja sama konkret antara NU dan Muhammadiyah semakin besar.


Reporter: Andi M. Arief