Erick Thohir Enggan Berpolemik soal Benang Kusut Sepak Bola Tanah Air

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/mrh/wp
Ketua Umum PSSI Erick Thohir (tengah) didampingi Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari (kiri) dan Dubes Indonesia untuk Thailand Rachmat Budiman (kanan) menyaksikan pertandingan Final Piala AFF U-23 2023 di Rayong Provincial Stadium, Thailand, Sabtu (26/8/2023). Timnas U-23 Indonesia runner up Piala AFF U-23 usai kalah dari Vietnam pada adu penalti dengan skor 5-6.
Penulis: Lona Olavia
31/8/2023, 08.39 WIB

Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir enggan berpolemik panjang dan lebih memilih mencari solusi atas sebuah persoalan dalam mengurai benang kusut persepakbolaan nasional.

Misalnya saja seperti dalam persoalan pemanggilan pemain ke timnas maupun soal persiapan stadion Jakarta International Stadium (JIS) sebagai lokasi penyelenggaraan Piala Dunia U-17.

"Daripada kita berpolemik, kita mending cari solusi," kata Erick Thohir kepada pewarta di sela laga uji coba timnas U-17 Indonesia kontra Korsel, Rabu (30/8) dikutip dari Antara.

Terkait pemanggilan pemain ke timnas yang kerap ada tarik ulur dengan klub, terutama dalam turnamen di luar agenda FIFA, Erick mengaku sudah punya solusi. Solusinya adalah memutar elite pro academy yang akan menjadi wadah kompetisi pemain muda. Dari kompetisi itulah nanti timnas akan mendapat tambahan suplai pemain.

Sebab kata Erick, pangkal kendalanya bukan sekadar izin klub melainkan stok pemain. Oleh karena PSSI ingin memiliki lapisan timnas yang lengkap sejak tim U-12 hingga tim senior, maka Erick ingin kompetisi usia muda layaknya elite pro academy segera berjalan.

"Kita tentu tetap butuh didukung dari klub dan liga untuk menebalkan jumlah pemain timnas kita. Tapi juga September ini kita akan mulai elite pro academy. Itu positif untuk semakin menebalkan stok pemain," ujar Erick.

Erick mengatakan, dengan sistem timnas yang berjenjang maka sudah pasti kompetisi usia muda menjadi kunci. Elite pro academy juga bisa menjadi sarana regenerasi bagi klub.



Dengan adanya elite pro academy diharapkan tidak ada jenjang timnas yang kosong. Hal ini terutama jika seluruh jenjang timnas serentak menggelar kegiatan. Sebagai contoh pada September ini tiga jenjang timnas, yakni U-17, U-23, dan senior sama sama melakukan uji coba.

"Kenapa membangun tim nasional itu tidak bisa sepotong-sepotong Kita harus ada kelompok umur, terus meningkat dan ini program jangka panjang. Karena terbukti, contoh ketika kita mengadakan pertandingan FIFA Match Day September ini, ada tentu buat senior team, ada juga buat U-23 AFC, skuat pemainnya jadi tipis. Nah artinya apa? Itulah tugas kami di PSSI untuk menebalkan stok pemain baik lewat liga, elite pro academy, atau TC khusus," kata mantan Presiden Inter Milan itu.

Layaknya pemanggilan pemain timnas yang mana butuh solusi, hal yang sama juga berlaku terkait pro kontra soal pemilihan JIS yang jadi lokasi Piala Dunia U-17. Secara tegas Menteri BUMN itu juga enggan berpolemik dengan kalangan yang menarik persoalan ini ke ranah politik.

Sebab sejatinya masalah JIS adalah sederhana yakni melakukan perbaikan layaknya yang dilakukan stadion lain dalam mempersiapkan turnamen besar.

Menurut Erick solusinya bukan berdebat di media sosial tapi bekerja demi solusi agar JIS bisa jadi lokasi pelaksanaan Piala Dunia U-17.

"Bukan waktunya kita berpolemik. Yang penting kita sebagai tuan rumah harus mempersiapkan ini dengan baik. Saat ini sesuai rekomendasi FIFA pergantian rumput dan pembukaan akses ke stadion JIS sedang dilakukan," kata Erick.

Reporter: Antara