Deretan Tokoh Deklarasikan Gerakan Jaga Pemilu, Kawal Agenda Demokrasi

Katadata/Ade Rosman
Sejumlah tokoh mendeklarasikan berdirnya gerakan Jaga Pemilu, Selasa (21/11)
Penulis: Ade Rosman
21/11/2023, 21.03 WIB

Sejumlah tokoh nasional dari latar belakang berbeda mendirikan Jaga Pemilu. Gerakan ini lahir atas dorongan menjaga dan mengawal  pemilihan umum 2024 yang akan digelar pada 14 Februari 2024 mendatang berjalan demokratis. 

Motor awal lahirnya Jaga Pemilu diinisiasi oleh 11 tokoh lintas bidang. Mereka adalah  Erry Riyana Hardjapamekas, Luky Djani, Natalia Soebagjo, Metta Dharmasaputra, Ririn Sefsani, Titi Anggraini, Sulistyowati Irianto, Airlangga Pribadi, Wahyu Susilo, Rusdi Marpaung, Hadar Gumay, Arief Budiman, dan Ray Rangkuti.

Para inisiator bersepakat menggagas gerakan untuk pendidikan politik populer dan pemantauan pemilu seperti yang pernah bergulir pada 1997 dan 1999 saat masa orde baru berakhir dan reformasi bergulir. 

"Gerakan Jaga Pemilu bertujuan untuk memastikan bahwa setiap aktor kunci kepemiluan, yaitu penyelenggara pemilu, peserta pemilu, dan juga pemilih, melaksanakan fungsi masing-masing secara berintegritas dan tidak adanya penyimpangan dalam proses pemilu," ujar Luky Djani membacakan isi  manifesto saat peluncuran Jaga Pemilu,  Selasa (21/11).

Dalam menjalankan perannya, Jaga Pemilu menggaungkan slogan #jujuradil. Dalam manifestonya para tokoh menyatakan bahwa mereka memiliki tujuan untuk memperkuat kesadaran dan pemahaman hak-hak politik warga. Jaga Pemilu juga ingin meningkatkan pengawasan atas proses tahapan pemilu, meningkatkan partisipasi politik warga melalui platform digital.

Dalam manifestonya, Jaga Pemilu menilai Pemilu 2024 merupakan titik penting dalam perjalanan 25 tahun reformasi. Hal itu membuat gerakan ini akan berfokus mengawal agenda reformasi terutama dalam menegakkan demokrasi. 

"Jaga Pemilu mengajak warga negara untuk aktif menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan atau abuse of power demi hasrat dan kepentingan sempit yakni memenangkan kontestasi pemilu 2024," ujar Luky lagi. 

Sejumlah tokoh mendeklarasikan berdirinya gerakan Jaga Pemilu, Selasa (21/11) (Katadata/Ade Rosman)

Pada kesempatan yang sama, inisiator Jaga Pemilu lainnya, Ririn Sefsani mengatakan, saat ini demokrasi hanya digunakan untuk kelompok tertentu atas nama kekuasaan. Hal itu menurut Ririn harus menjadi perhatian seluruh masyarakat agar demokrasi tidak disalahartikan. 

"Demokrasi hanya digunakan untuk kelompok tertentu atas nama kekuasaan dan yang lebih mengerikan adalah konstitusi," kata Ririn.

Ia pun menjelaskan Jaga Pemilu ingin memastikan terpenuhinya ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan calon pemimpin berdasarkan gagasan dan ide untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik. Menurut dia harus ada kemauan bersama dari seluruh lapisan masyarakat untuk berubah. 

"Kita dihadapkan pertarungan soal figur yang nir pada gagasan, dan yang lebih parah lagi dalam  seluruh proses itu juga kita dihadapkan pada peristiwa konstitusi yang secara sembarangan dipermainkan atas kepentingan tertentu," kata Ririn.

Ririn menegaskan, Jaga Pemilu hadir tak hanya menjadi pemantau dari proses demokrasi elektoral, tali juga memastikan para penyelenggara tidak bermain-main dengan rakyat. Ia mengatakan para penggerak yang tergabung dalam Jaga Pemilu akan mengawasi dan memastikan bahwa demokrasi tidak dibelokkan.

Secara simbolis, sejumlah tokoh yang hadir pada kesempatan itu pun menandatangani sebuah dinding dengan logo Jaga Pemilu. Penandatangan dimaknai sebagai penanda lahirnya gerakan secara resmi. 

Daftar tokoh yang menyatakan bergabung dalam gerakan Jaga Pemilu

  1. Abigail Limuria (Co-initiator BijakMemilih dan Co-founder What Is Up, Indonesia)
  2. Dr. Afrizal Tjoetra (sosiolog FISIP USU)
  3. Dr. Airlangga Pribadi (Dosen FISIP Unair, kolumnis)
  4. Prof. Dr. Akmal Taher (ahli bedah, mantan Dirut RSCM)
  5. Amiruddin Al Rahab (mantan Komisioner Komnas HAM)
  6. Andhyta F. Utami (Co-founder ThinkPolicy dan Co-initiator BijakMemilih)
  7. Andriko Otang (Direktur Eksekutif TURC)
  8. Anton Supit (pengusaha)
  9. Anwar Saragih, MA (dosen FISIP USU)
  10. Arianto Sangaji (akademisi, ahli ekonomi pertambangan, Sulteng)
  11. Prof. Dr. Arif Satria (Rektor IPB)
  12. Arief Budiman (mantan Ketua KPU)
  13. Arief T. Surowidjojo (pengacara senior)
  14. Dr. A. Prasetyantoko (ekonom, mantan Rektor Unika Atmajaya)
  15. Bakti Nusa Madani (Komisaris Daerah PP PMKRI)
  16. Bambang Harymurti (mantan Pemred Tempo)
  17. Benny Sutrisno (pengusaha)
  18. Bivitri Susanti (ahli hukum tata negara, pendiri PSHK)
  19. Prof. Dr. Budi Setiyono (mantan Wakil Rektor III Undip)
  20. Chandra Hamzah (mantan Komisioner KPK)
  21. Clara Joewono (akademisi, Direktur CSIS)
  22. Dira Sugandi (penyanyi, aktris)
  23. Elis Nurhayati (pakar komunikasi, peneliti UIII)
  24. Erry Riyana Hardjapamekas (mantan Komisioner KPK)
  25. Dr. Fachrizal Affandi (dosen FH Univ. Brawijaya)
  26. Dr. Fajar Nur Sahid (Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta)
  27. Goenawan Mohamad (sastrawan, perupa)
  28. Gunawan Primasyta (influencer, aktivis perdamaian Poso, Sulteng)
  29. Nur Safitri Lasibani (Direktur Sikola Mombine (Women Political School) Sulteng)
  30. Hadar Gumay (mantan Komisioner KPU)
  31. Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo (guru besar FH UI)
  32. Henny Supolo (pendidik, pendiri sekolah Al-Izhar)
  33. Herman N. Suparman (Direktur Eksektutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD))
  34. Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putera (Univ. Udayana, Bali
  35. Dr. Ida Ruwaida (sosiolog FISIP UI)
  36. Inayah Wahid (Gus Durian, putri KH Abdurrahman Wahid)
  37. Joe Kamdani (pengusaha)
  38. Dr. Karlina Supelli (astronomer, ITB)
  39. Kemal A. Stamboel (mantan Ketua Komisi I DPR RI)
  40. Karen Tambayong (pengusaha)
  41. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (agamawan, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah)
  42. Luhut MP Pangaribuan, SH (pengacara senior)
  43. Dr. Luky Djani (mantan Wakil Koordinator BP ICW)
  44. Lutpi Ginanjar (Founder/CEO Smeshub)
  45. Dr. Mada Sukmajati (pakar kebijakan publik Fisipol UGM)
  46. Prof. Dr. Manneke Budiman (guru besar sastra FIB UI)
  47. Prof. Dr. Marcus Priyo Gunarto (guru besar FH UI)
  48. Dr. Maskawati (pakar hukum tata negara, Institut Agama Islam Negeri Bone)
  49. Melki Sedek Huang (Ketua BEM UI)
  50. Metta Dharmasaputra (Co-founder KataData)
  51. Dr. Meuthia Ganie-Rochman (sosiolog FISIP UI)
  52. Dr. Mudiyati Ahmad (Wakil Dekan FISIP Unpad)
  53. Prof. Dr. Multamia Lauder (ahli topomimi, guru besar FIB UI)
  54. Natael Bremana WB (Ketua Presidium PMKRI Semarang)
  55. Natalia Soebagjo (aktivis, Transparency International)
  56. Nur Safitri Lasibani (Direktur Sikola Mombine (Women Political School) Sulteng)
  57. Olga Lydia (aktris, produser film)
  58. Otto Syamsudin Ishak (mantan Komisioner Komnas HAM)
  59. Poltak Hotradero (ekonom, analis pasar modal)
  60. Ray Rangkuti (aktivis, pengamat politik)
  61. Rene L. Pattiradjawane (jurnalis senior)
  62. Ririn Sefsani (aktivis HAM, Ketua Dewan Pembina YLKI)
  63. Prof. Dr. Rosari Saleh (guru besar FMIPA UI)
  64. Rudy Wanandi (pengusaha)
  65. Rusdi Marpaung (pengacara, Pendiri Imparsial)
  66. Dr. Sandra Hamid (aktivis, The Asia Foundation)
  67. Shaivannur (pegiat sosial Aceh)
  68. Prof. Dr. Sulistyowati Irianto (guru besar FH UI)
  69. Prof. Dr. Susi Dwi Harijanti (guru besar FH Unpad)
  70. Suzie Sudarman, MA (pakar hubungan internasional FISIP UI)
  71. Titi Anggraini (Anggota Dewan Pembina Perludem, ahli hukum tata negara FHUI)
  72. Toto Sugiri (pengusaha teknologi)
  73. Tunggal Pawestri (Aktivis HAM, Direktur Eksekutif Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial)
  74. Wahyu Susilo (Direktur Eksekutif Migrant Care)
  75. Wenseslaus Manggut (jurnalis senior, mantan Ketua Umum AMSI)
  76. Dr. Widodo Dwi Putro (ahli filsafat hukum Universitas Mataram NTB)
  77. Dr. Willy Purna Samadi (dosen FISIP UPN Veteran Jakarta)
  78. Yaury Tetanel (pegiat inklusi sosial)
  79. Dr. Zainal Arifin Mochtar (Direktur Pusat Kajian Anti-Korupsi FH UGM), dan masih terus bertambah.



Reporter: Ade Rosman