Covid-19 di Singapura Melonjak, Apotek Kehabisan Alat Tes Antigen

ANTARA FOTO/ REUTERS/Edgar Su/hp/dj
Edgar Su Pemandangan perahu yang nyaris kosong dekat Merlion Park, saat pariwisata harus menghadapi penurunan curam akibat mewabahnya virus corona (COVID-19), di sepanjang Marina Bay, Singapura, Kamis (26/3/2020).
8/12/2023, 14.12 WIB

Sejumlah apotek dan toko di Singapura kehabisan alat tes antigen. Hal ini setelah lonjakan Covid-19 muncul di jiran Indonesia itu selama beberapa waktu belakangan.

Dikutip dari The Straits Times, paling tidak ada enam apotek, supermarket, dan toko serba ada di Toa Payoh dan Bishan yang kehabisa alat tes pada 6 Desember lalu. Sehari kemudian, hanya sedikit toko dan apotek yang mendapatkan pasokan alat tes.

Salah satu toko yang bernama FairPrice di Toa Payoh pada 6 Desember akan mengisi lagi stok alat tes dalam satu hari. Meski demikian, staf toko tersebut belum menerima peralatan tes Covid-19 sehari kemudian.

Seorang karyawan apotek Unity di Junction 8 juga mengatakan sebagian besar gerai toko tersebut kehabisan antigen. Baik FairPrice maupun Unity merupakan anak usaha dari FairPrice Group.

"Kami bekerja sama dengan pemasok untuk memastikan bahwa tersedia peralatan ART yang cukup di toko kami," demikian penjelasan perusahaan seperti dikutip dari The Straits Times, Jumat (8/12).

Apotek Guardian juga melaporkan adanya lonjakan permintaan alat tes dalam sepekan. Seorang staf toko Guardian di Junction 8 juga mengaku telah kehabisan alat tes.

Sedangkan staf 7-Eleven di stasiun MRT Bishan juga mengatakan toko tersebut kehabisan alat tes. Adapun, gerai 7-Eleven di stasiun MRT Braddell telah menerima pengisian ulang sebanyak 10 kotak alat tes.

Sedangkan dua gerai Watsons di lokasi yang sama telah menerima pasokan alat tes dalam jumlah kecil. Perlengkapan tersebut dijual dalam kotak berisi 10 buah alat. Staf di Watsons memperkirakan alat tes tersebut akan terjual habis dalam sepekan.

Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan jumlah infeksi Covid-19 pada 19 hingga 25 November naik dua kali lipat dari 10.726 menjadi 22.094 pasien. Lonjakan kasus kemungkinan terjadi akibat perjalanan akhir tahun hingga berkurangnya kekebalan penduduk.