Putin Ajukan Kerja Sama Pengembangan Nuklir Non-Militer ke Prabowo

ANTARA FOTO/Genta Tenri Mawangi/app/nz
Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dalam kunjungan resmi di Istana Konstantine Novsky, St. Petersburg, Rusia, Kamis (19/6/2025).
20/6/2025, 06.16 WIB

Rusia bersedia menjalin kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir non-militer. Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyinggung potensi kemitraan di bidang lain, termasuk penjelajahan luar angkasa dan kecerdasan buatan atau AI. 

"Kami terbuka untuk bekerja sama dengan mitra Indonesia di bidang nuklir. Kami juga berkeinginan merealisasikan proyek nuklir di bidang damai," kata Putin saat sesi pernyataan pers setelah pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Konstantinovsky, Saint Petersburg pada Kamis (19/6), sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Putin menyebut Rusia juga ingin menjalin kerja sama dengan Indonesia di bidang kesehatan, pertanian serta pelatihan dan pendidikan sumber daya manusia (SDM). Negara ini turut menawarkan diri untuk memperluas sektor kemitraan dengan Indonesia di sektor teknologi, meliputi penjelajahan luar angkasa, AI hingga implementasi sistem kota berbasis data dan efisiensi teknologi alias smart city.

Ia menyampaikan Rusia bersedia memperdalam hubungan dagang di sektor energi dalam bentuk pengiriman minyak mentah dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke Indonesia. "Kami bersedia menambah pasokan minyak dan gas alam cair ke pasar Indonesia," ujarnya.

Putin pun turut menyinggung pembangunan proyek Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban di Jawa Timur. Pembangunan kilang ini merupakan inisiatif bersama, yang dikerjakan oleh PT Pertamina dengan Rosneft Oil Company, melalui perusahaan patungan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).

Direktur Lembaga Intelijen Rusia atau The Federal Security Service of the Russian Federation (FSB) periode 1998 - 1999 itu juga menawarkan perluasan keterlibatan Rusia di sektor hulu migas Indonesia, terutama dalam proyek eksplorasi dan produksi migas di wilayah lepas pantai atau offshore.

Putin juga menawarkan kerja sama investasi untuk meningkatkan produksi ladang minyak yang sudah tua atau mature fields. "Kami bersedia untuk ikut serta dalam proyek baru di lepas landas Indonesia dan memodernisasi infrastruktur supaya mendongkrak produksi minyak dari ladang tua," ujar Putin.

Pada kesempatan tersebut, Putin mengatakan Indonesia sebagai salah satu mitra dagang paling strategis di kawasan Asia Tenggara. Hal ini mengacu pada nilai total perdagangan kedua negara US$ 4,3 miliar atau sekitar Rp 70,5 triliun tahun lalu.

Putin juga menyoroti volume perdagangan dalam empat bulan terakhir tumbuh 40% dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini tidak lepas dari pertumbuhan ekspor gandum Rusia ke Indonesia dan penjualan produk pertanian dari Indonesia ke Rusia.

Rusia dan Indonesia juga telah menandatangani nota kesepahaman tentang pengembangan infrastruktur halal pada April. "Dokumen ini membuka peluang baru untuk ekspor produksi peternakan ke Republik Indonesia," kata Putin.

Pada kesempatan serupa, Presiden Prabowo Subianto mengatakan hubungan Indonesia dengan Rusia semakin erat setelah pertemuan bilateral kali ini.

Ia menyampaikan pertemuan diplomatik yang terjadi kali ini cenderung produktif dan progresif. "Di semua bidang baik ekonomi, kerja sama teknis, perdagangan, investasi hingga pertanian. Semua telah mengalami peningkatan yang berarti," kata Prabowo.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu