Pemkot Semarang Rencana Bangun LRT, Butuh Investasi Hampir Rp 15 Triliun
Pemerintah Kota Semarang berencana membangun kereta api ringan atau LRT sepanjang 78,4 kilometer dengan investasi Rp 14,76 triliun. Skema pendanaan proyek tersebut adalah kerja sama pemerintah daerah dengan badan usaha atau KPDBU.
Walikota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan realisasi proyek tersebut telah didiskusikan dengan PT Kereta Api Indonesia. Agustina menekankan realisasi proyek tersebut tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan pemerintah daerah.
"Mission impossible kalau pemerintah daerah membayar semua investasi proyek LRT Semarang. Ini harus ada investasi swasta," kata Agustina dalam diskusi "Masa Depan Mobilitas Kota",Jumat (8/8).
Agustina memaparkan LRT Semarang dirancang untuk memiliki sembilan koridor yang akan menghubungkan kawasan Simpang Lima dan Penggaron. Pada tahap pertama, akan ada dua koridor yang dibangun, yakni koridor Simpang Lima-Tawang-Poncol sepanjang 8 kilometer dan koridor Simpang Lima-Bandara Ahmad Yani sepanjang 9,8 kilometer.
Ia belum menjelaskan lebih lanjut terkait investor yang akan masuk ke dalam proyek tersebut. Karena itu, Pemerintah Kota Semarang belum mengumumkan jadwal pembangunan proyek tersebut.
Di sisi lain, Agustina menjelaskan pihaknya terus mencari alternatif transportasi umum di kotanya. Hal tersebut penting agar lalu lintas di Semarang tidak memburuk seperti di Surabaya maupun Jakarta.
"Kalau kami dalam 5-10 tahun ke depan tidak berhasil menambah jumlah moda transportasi publik, saya khawatir kondisi lalu lintas Kota Semarang akan sama seperti Surabaya dan Jakarta," ujarnya.
Sebelumnya, Indonesia dan Inggris akan meluncurkan proyek kerja sama di bidang transportasi hijau senilai 9 juta Poundsterling atau setara Rp 126 miliar Senin (5/7). Proyek ini diantaranya terkait pengembangan LRT di Semarang; dekarbonisasi transportasi inklusif di Medan, serta mobilitas bersih melalui kebijakan transportasi rendah karbon di seluruh kota.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins, mengatakan bahwa meningkatkan transportasi dapat memberikan efek domino pada sektor lain. Indonesia dan Inggris dapat belajar dari satu sama lain saat masing-masing negara berupaya untuk mengembangkan infrastruktur dan perencanaan transportasi.
“Meningkatkan transportasi seperti meningkatkan Pendidikan. Ini dapat memicu reaksi berantai yang membawa lebih banyak perbaikan daripada yang bisa dihitung,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (4/7).