Kronologis TNI dan Polri Diduga Tembak Gas Air Mata ke Kampus Unisba di Bandung
Aparat kepolisian dan TNI dikabarkan mengerahkan pasukan ke area Kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan yang terletak di Jalan Tamansari, Bandung, Jawa Barat pada Senin (1/9) tengah malam.
Rektor Unisba, Harits Nu'man, mengatakan mengatakan tim patroli gabungan TNI-Polri tidak masuk ke area kampus. “Sepanjang pantauan saya, baik melalui laporan maupun langsung saya lihat di CCTV di sini, saya lihat pantauan disini, kami tidak melihat aparat kepolisian walaupun berpakaian preman masuk ke area kampus,” kata Harits dalam konferensi pers di Bandung, Selasa.
Berdasarkan pantauan Katadata dari video yang beredar, aparat TNI dan polisi menembakkan gas air mata ke dalam kampus. "Kami memaknai penembakan itu untuk mengurangi massa yang bergerombol. Itu area publik, bukan area kampus,” kata Harits.
Buntut penembakkan gas air mata, Unisba mencatat terdapat kurang lebih 62 korban yang mengeluhkan sesak nafas serta terkena pukulan. “Keluhannya sama. Satu sesak nafas, kemudian juga ada juga yang terkena pukulan,” kata Harits.
Harits menjelaskan Unisba merupakan salah satu posko evakuasi korban demonstrasi yang digelar di depan Gedung DPRD sejak beberapa hari lalu. Sehingga, Unisba dijadikan sebagai titik aman bagi para massa aksi. Unisba menyatakan tak ada korban jiwa dalam serbuan TNI dan polisi ke kampus.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengungkapkan tembakan gas air mata yang terjadi di sekitar Tamansari dipicu oleh serangan bom molotov dari sekelompok orang berpakaian hitam yang diduga kelompok anarko.
Ia mengatakan insiden itu berawal saat patroli gabungan TNI-Polri berskala besar melintas di kawasan Jalan Tamansari, Kota Bandung.
“Pada saat yang sama, muncul sekelompok orang berpakaian hitam yang diduga merupakan kelompok anarko. Mereka inilah awalnya yang menutup jalan dan membuat blokade di Tamansari sambil anarkis,” kata Hendra.
Hendra menjelaskan kelompok tersebut kemudian melakukan provokasi lebih jauh dengan melempar bom molotov dari dalam kampus ke arah petugas dan kendaraan, termasuk mobil rantis Brimob. Atas kondisi itu, petugas menembakkan gas air mata ke jalan raya.
Ia menegaskan informasi di media sosial yang menyebut aparat masuk ke kampus, membawa senjata peluru karet, dan menembakkan gas air mata ke dalam area kampus adalah tidak benar.
“Jarak petugas kurang lebih 200 meter dari kampus Unisba. Tidak ada tembakan gas air mata yang diarahkan ke kampus, semuanya diarahkan ke jalan raya, tempat kelompok berpakaian hitam berkumpul,” kata dia.
Berikut kronologis penembakan gas air mata ke kampus dari berbagai sumber:
- Pukul 18.00 : pendemo di Gedung DPRD dipukul mundur
Mahasiswa Unisba yang berdemonstrasi di Gedung DPRD Jawa Barat dipukul mundur setelah magrib. Aparat TNI dan Polri diduga melakukan kekerasan kepada para pendemo.
“Kami yang lewat ditendang, dipukul, didorong. Saya sama teman saya kena tendang di tulang rusuk kanan, jatuh, saya kena pukul juga di rahang dan belakang kepala. pada akhirnya ada tim medis jalanan yang bantu, kita bareng-bareng jalan ke Unisba,” kata Presiden Mahasiswa Unpas Ridho Dawam.
- Pukul 21.00 : posko medis di Unisba ditutup
Pihak medis di kampus membantu proses penanganan korban demonstrasi hingga jam 20.30. "Jam 20.30 sampai jam 21.00 itu masih ada korban yang nafasnya masih sesak dan lemas. Itu sudah selesai kami bantu, kami tangani, kami evakuasi, dan selamat, mereka dijemput oleh keluarganya. Posko tutup di jam 21.00," kata Harits.
- Pukul 23.30 : TNI dan polisi menyerbu masuk
Presiden Mahasiswa Unpas Ridho Dawam mengatakan aparat kepolisian-TNI masuk ke area kampus Unpas sekitar pukul 23.30 WIB.
“Mereka melakukan penyerangan dengan menembakkan lebih dari 30 selongsong gas air mata ke arah massa aksi, posko medis, titik evakuasi, dan sekretariat UKM,” kata Ridho saat dihubungi, Selasa (2/9).
Ridho menuturkan, akibat kejadian ini, banyak mahasiswa mengalami sesak napas, luka, hingga trauma. Saat ini, kata dia, kondisi kampus masih belum sepenuhnya kondusif, aktivitas mahasiswa terganggu, dan beberapa korban masih dalam pemulihan.