Prabowo Sebut Pertemuan Trump dan Xi Jinping Ciptakan Ekonomi Dunia Stabil

Katadata
Presiden Prabowo Subianto saat tiba di Bandara Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10). Foto: Muhamad Fajar Riyandanu/Katadata
31/10/2025, 18.48 WIB

Presiden Prabowo Subianto menyambut positif pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) 2025 di Busan, Korea Selatan, pada 30 Oktober lalu. Prabowo menilai ketenangan hubungan dagang antara AS dan Cina akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia.

"Alhamdulillah Presiden Trump berjumpa dengan Presiden Xi Jinping," kata Prabowo setelah menghadiri pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Selandia Baru Chirstopher Luxon di sela-sela kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) di Gyeongju, Korea Selatan pada Jumat (31/10).

Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan bahwa mencairnya ketegangan antara AS dan Cina akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia. Situasi tersebut selanjutnya juga berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Indonesia nantinya.

"Saya dengar juga suasananya positif. Dan ini yang kita harapkan karena akan sangat mempengaruhi ketenangan dunia. Ekonomi dunia sangat tergantung pada ketenangan," ujarnya.

Pendapat serupa sebelumnya disampaikan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Bakrie. Ia menilai pertemuan antara Trump dan Xi Jinping berdampak positif bagi stabilitas ekonomi global.

Anin menilai pertemuan pimpinan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia itu akan menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi perdagangan dan investasi global.

“Secara umum, kedua pemimpin besar berdiskusi. Melakukan pendinginan daripada tensi itu sangat bagus. Buat Indonesia tentu akan fokus bukan saja dengan perdagangan yang sudah baik dengan Amerika,” kata Anin di Hotel Lahan Select Gyeongju pada Kamis (30/10), malam waktu setempat.

Dia menilai langkah AS yang menurunkan tarif dagang terhadap Cina dari 57% menjadi 47% merupakan langkah progresif bagi dinamika perekonomian global. Di sisi lain, Cina berkomitmen membatasi aliran bahan fentanyl ke AS serta meningkatkan impor kedelai dari negeri Paman Sam.

Lebih jauh, Anin melanjutkan pertemuan Trump dan Xi Jinping berpotensi membuka ruang bagi Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara dua mitra dagang utama tersebut. Ia mendorong agar pemerintah lebih aktif dalam melakukan deregulasi penyederhanaan aturan dan perizinan sehingga investasi dan kegiatan usaha lebih mudah dilakukan.

“Kadin dan asosiasi lainnya ingin memastikan bahwa deregulasi juga terjadi. Supaya bukan hanya tarifnya kompetitif, tapi juga hal lain seperti tenaga kerja, sumber daya mineralnya, listrik, air, dan lain-lain. Karena ujung-ujungnya adalah daya saing dibanding negara lain,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu