CEO Rappler sekaligus pemenang Nobel Perdamaian Maria Ressa menyebut manipulasi digital yang terstruktur kini mengancam demokrasi dan partisipasi publik.
Maria Ressa menyebut publik saat ini menghadapi tantangan dalam hal membedakan antara fakta dan fiksi. Menurutnya, kemampuan publik memilah informasi akan menentukan masa depan demokrasi. Ia menekankan pentingnya publik bisa memegang kendali atas ekosistem informasi dan tidak dimanipulasi demi keuntungan.
“Jika Anda tidak bisa membedakan antara fakta dan kebohongan, Anda tidak bisa menyelesaikan masalah apa pun. Anda tidak bisa punya jurnalisme, tidak bisa punya partisipasi warga, tidak bisa punya demokrasi,” katanya, dalam acara Social Good Move 2025 yanng digelar Rappler di Kota Pasay, Filipina.
Ressa mengatakan jika pertempuran antara informasi fakta dan fiksi ini kalah, dunia akan menghadapi gelombang fasisme baru yang jauh lebih canggih. Ia menggambarkan risiko ketika teknologi kesehatan seperti aplikasi pemantau tubuh terhubung dengan kecerdasan informasi.
“Jika fasisme menang, ini bisa berlangsung setidaknya satu dekade. Karena fasisme yang didukung teknologi sangat berbeda dari apa yang terjadi pada 1940-an kemampuan untuk mengendalikan kita tanpa kita sadari,” imbuhnya.
Dalam acara Social Good Move 2025, Rappler mengangkat tema integritas informasi yang Maria Ressa sebut sebagai “induk dari segala pertempuran”. yakni integritas informasi. Acara tahunan yang memasuki tahun ke-14 ini menghadirkan pemimpin global, jurnalis, dan para pembuat perubahan dari berbagai negara.
Tahun ini, forum menghadirkan tokoh-tokoh kelas dunia, termasuk George dan Amal Clooney, Alexandra Matveichuk, Carole Cadwalladr, serta pejabat digital Taiwan yang dikenal luas, Audrey Tang.
Sebagai informasi, Social Good Summit 2025: Make Your Move merupakan pertemuan tahunan terbesar Rappler yang mempertemukan tokoh-tokoh yang berada di garis depan percakapan global paling mendesak.