AI Bantu Badan Komunikasi Pemerintah Pilah Misinformasi MBG

Katadata
Deputi Bidang Pembinaan Badan Komunikasi Pemerintah Noudhy Valdryno dalam acara Trendmaker Summit 2025, Bali, Jumat (28/11).
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Agustiyanti
29/11/2025, 13.16 WIB

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) membantu pemerintah dalam memilah informasi serta misinformasi yang berkembang di masyarakat. Salah satunya terkait program asta cita Makan Bergizi Gratis (MBG).

Deputi Bidang Pembinaan Badan Komunikasi Pemerintah Noudhy Valdryno mengatakan, AI akan menyampaikan mana saja video yang berpotensi mengandung misinformasi, kemudian akan dikaji ulang oleh pemerintah.

“(Kinerjanya) lumayan, tadinya kami harus review ratusan ribu konten, sekarang mungkin hanya perlu 10-20 ribu konten saja, mana yang paling terdampak,” kata pria yang akrab disapa Ryno dalam acara Trendmaker Summit 2025, Bali, Jumat (28/11).

Jika tanpa AI, menurut dia, proses pemilahan secara manual untuk setiap pesan dalam video memerlukan waktu 3-5 jam. Hal ini sebab pemerintah harus melihat isi pesan dari berbagai aspek.

Selain mendeteksi misinformasi, Badan Komunikasi Pemerintah juga memanfaatkan AI sebagai alat pendeteksi opini publik, apakah bersifat organik atau tidak.

Meski memiliki manfaat, Ryno menyampaikan, penggunaan AI harus dilakukan secara etis dan bertanggung jawab. Menurutnya, Indonesia tidak perlu takut akan perkembangan, namun harus menyesuaikan dengan masifnya teknologi saat ini.

Hal ini menjadi tantangan bagi seluruh pihak, baik pemerintah, perusahaan, akademisi, dan masyarakat

“Tetap mempertahankan nilai empati di dalam gaya dan implementasi strategi komunikasi. Kalau menurut terus dengan teknologi, maka lama kelamaan gaya komunikasi kita seperti robot,” ujarnya.

Selain AI, Ryno juga membahas terkait seberapa cepat masyarakat mencerna konten. Pada 2018, masyarakat Indonesia membutuhkan waktu 3 detik untuk mencerna konten informasi yang ada. Namun saat ini, angkanya semakin kecil menjadi 1,7 sampai 2 detik saja.

Menurut Ryno, pendeknya waktu pencernaan informasi ini menjadi tantangan yang dihadapi Badan Komunikasi Pemerintah saat ini.

“Bagaimana kami bisa mengomunikasikan dengan humanis,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani