Dino Patti Djalal: Tatanan Dunia Berikutnya Ada di Tangan Kita
Pendiri dan Presiden Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyatakan dunia sedang memasuki sebuah tatanan baru. Dinamika ini menuntut Indonesia mengambil peran dalam ikut menentukan arah tatanan dunia baru.
"Setiap kali dunia berubah, Indonesia terdampak dan menjadi bagian dari perubahan itu. Dunia sedang memasuki sebuah tatanan baru, mari kita sejenak mencerna kenyataan ini, tatanan dunia berikutnya ada di depan mata," ujar Dino dalam pidatonya ketika membuka Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025 yang mengusung tema "The Next World Order" di Kasablanka Hall, Jakarta, Sabtu (29/11).
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) itu mengatakan setidaknya ada empat alasan utama yang membuat dunia beralih ke tatanan baru. Alasan-alasan ini adalah pergeseran distribusi kekuatan global, rapuhnya sistem berbasis aturan, melemahnya institusi multilateral, dan arah dunia yang semakin melenceng.
Ia menyebut jumlah negara yang menandatangani Piagam PBB (Magna Charta) pada 1945 sebanyak 51 negara. Pada 2025, jumlah anggota PBB telah meningkat hampir empat kali lipat menjadi 193 negara.
Dino menyoroti tatanan dunia yang berbasis peraturan sedang runtuh. Dalam dua tahun terakhir terutama sejak perang Rusia-Ukraina, Dino menyebut ada tebang pilih dalam penerapan regulasi dunia.
"Negara-negara maju hanya akan mengikuti aturan ini kalau menguntungkan mereka. Ada standar ganda dan inconsistency dalam penerapan aturan dunia," kata Dino.
Ia menyebut Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal merespons sejumlah masalah keamanan yang genting karena ada lima anggota yang memiliki hak veto. Contohnya, respons mereka terhadap genosida yang dilakukan Israel di Gaza, Palestina.
Institusi multilateral juga tidak berjalan karena kurangnya pendanaan atau masalah geopolitik. "Kita kehilangan kompas moral, batas antara benar dan salah semakin kabur," tuturnya.
Momentum bagi Indonesia sebagai Middle Power
Di era tatanan dunia berikutnya, Dino menilai negara-negara yang menjadi "middle powers" seperti Indonesia, Afrika Selatan, Australia, hingga Pakistan akan memegang peranan yang menentukan.
"Next World Order (tatanan dunia berikutnya) akan datang seperti hari esok, bagaimana Global South bergerak untuk menentukan dunia yang lebih baik dengan mendorong multilateralisme, antara lain dengan ikut meningkatkan pendanaan di organisasi multilateral," kata Dino.
Ia menyebut beberapa negara pemegang kekuatan tengah ini memiliki dana yang cukup. Namun, saat ini sepuluh donor terbesar di PBB tidak ada yang berasal dari negara-negara Global South ini.
Momentum ini sangat tepat jika Indonesia menjadi salah satu arsitek atau perancang utama tatanan dunia berikutnya. "Kekuatan diplomasi Indonesia terletak pada kekuatan gagasan dan idealisme," kata Dino. Karena itu, Indonesia sebagai negara anggota ASEAN, G20, dan negara yang memiliki reputasi kuat dalam inovasi multilateral harus bisa memanfaatkan hal ini.