Wabah Virus Nipah (NiV) kembali muncul di India pada awal tahun ini dengan kasus terbaru di negara bagian West Bengal. Kemunculan kembali virus ini memicu kewaspadaan di sejumlah negara Asia, mengingat hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin khusus untuk menanganinya.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, serta menyebar antarmanusia. Virus ini pertama kali teridentifikasi saat terjadi wabah di Malaysia pada 1998–1999 silam.

Thailand kini meningkatkan skrining kesehatan di sejumlah bandara utama, termasuk Suvarnabhumi, Don Mueang, dan Phuket. Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata Thailand memfokuskan pemeriksaan terhadap penumpang yang datang dari wilayah berisiko, seperti India. Skrining dilakukan melalui pengukuran suhu tubuh dan penilaian gejala untuk mendeteksi secara dini potensi infeksi.

Melansir The Bangkok Post (25/1), otoritas kesehatan Thailand kembali menerapkan langkah-langkah pengendalian penyakit yang sebelumnya digunakan saat Pandemi Covid-19 guna mencegah masuknya Virus Nipah melalui perjalanan internasional.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik dengan tingkat kematian tinggi dan belum tersedia obat atau vaksin khusus. Penularannya bisa terjadi dari hewan ke manusia, serta antar-manusia dalam beberapa wabah sebelumnya.

Nepal dan Taiwan Waspada

Pemerintah Nepal turut meningkatkan kewaspadaan menyusul merebaknya virus Nipah di India. Otoritas setempat memperketat pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu, serta di sejumlah pos perbatasan darat utama dengan India.

Pihak berwenang telah mendirikan pos kesehatan untuk memeriksa pelancong yang menunjukkan gejala Virus Nipah. Rumah sakit serta pos-pos kesehatan di perbatasan juga diperintahkan untuk melaporkan dan menangani setiap kasus yang dicurigai.

The Economic Times juga melaporkan, otoritas kesehatan Taiwan tengah menyiapkan langkah untuk mengklasifikasikan infeksi Virus Nipah sebagai penyakit wajib lapor Kategori 5, yaitu tingkat kewaspadaan tertinggi bagi ancaman penyakit menular serius dan baru sesuai peraturan setempat.

Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan juga mengonfirmasi bahwa pihaknya tetap memberlakukan peringatan perjalanan Level 2 (kuning) untuk wilayah Kerala, India, yang dalam beberapa bulan terakhir melaporkan kasus Virus Nipah. Imbauan tersebut meminta pelancong untuk tetap waspada, memantau kondisi kesehatan, dan menghindari paparan berisiko tinggi.

Belum Ada Vaksin

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan Virus Nipah sebagai patogen prioritas karena berpotensi memicu wabah. Virus Nipah termasuk dalam kelompok Henipavirus dan dapat menular melalui kontak dengan hewan terinfeksi—terutama kelelawar buah dari keluarga Pteropus—makanan yang terkontaminasi seperti nira kurma mentah, serta kontak dekat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

Virus Nipah merupakan virus zoonotik yang terutama ditularkan dari kelelawar pemakan buah (fruit bats). Virus ini memiliki tingkat fatalitas tinggi, berkisar antara 40%-75%, bergantung pada kondisi wabah dan kapasitas sistem layanan kesehatan setempat.

Gejala infeksi Virus Nipah umumnya diawali dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan sakit tenggorokan. Seiring perkembangan penyakit, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan serta komplikasi saraf, termasuk radang otak.

Pada kasus berat, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat hingga menyebabkan koma dan kematian hanya dalam hitungan hari. Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus khusus untuk Virus Nipah.

India Lakukan Tes PCR Kelelawar di Kebun Binatang

Otoritas India melakukan tes RT-PCR terhadap sejumlah kelelawar di Kebun Binatang Alipore, Kolkata, untuk memastikan tidak adanya infeksi. Hal tersebut disampaikan pejabat senior Departemen Kehutanan negara bagian pada Sabtu (24/1).

Kantor Berita Pemerintah India, Press Trust of India, melaporkan bahwa Tim dari National Institute of Medical Research selama dua hari, Kamis dan Jumat, mengumpulkan sampel darah serta usap dari kelelawar di kebun binatang tersebut sebelum menyelesaikan proses pemeriksaan.

Direktur Kebun Binatang Alipore, Tripti Sah, mengatakan seluruh prosedur pengambilan sampel telah dilakukan sesuai protokol. “Tim telah mengumpulkan sampel usap dari kelelawar dan menyelesaikan tugasnya. Seluruh proses dilakukan dengan mengikuti protokol yang berlaku,” ujarnya.

ThePrint pada 20 Januari lalu melaporkan bahwa otoritas kesehatan di West Bengal, India, menemukan kasus Virus Nipah pada dua perawat yang menjalani perawatan di rumah sakit setelah menunjukkan gejala infeksi. Kedua kasus tersebut kemudian dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu