BGN Tutup 47 Dapur SPPG dengan Menu MBG Roti Rusak hingga Buah Berbelatung
Badan Gizi Nasional telah menghentikan 47 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG sepanjang evaluasi selama Ramadan 2026. Penutupan dapur setelah temuan menu makanan bergizi gratis (MBG) seperti roti berjamur, buah berbelatung, hingga telur busuk.
Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang mencatat 30 SPPG yang dihentikan berada di wilayah II atau di Pulau Jawa. Sedangkan 12 SPPG lainnya di wilayah Indonesia Timur dan sebagian Pulau Kalimantan.
"Setiap temuan langsung ditindak dengan penghentian operasional sementara untuk evaluasi menyeluruh,” kata Nanik dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (2/3).
Nanik menyampaikan langkah penghentian sementara pada 47 SPPG dilakukan setelah proses verifikasi berjenjang. Selain kondisi bahan baku, proses evaluasi dilakukan pada manajemen dapur, rantai distribusi, dan prosedur kontrol kualitas.
Hal tersebut dinilai penting untuk menjamin kesehatan anak dan kredibilitas negara dalam menjamin asupan gizi. Alhasil, pengawasan terhadap SPPG harus dilakukan secara ketat dan transparan.
Nanik menyatakan sebagian penghentian SPPG dilakukan sebelum hasil makanan dikonsumsi siswa. Walau demikian, sanksi penghentian operasi tetap dilakukan sebagai bentuk penegakan standar dan pembelajaran sistemik ke seluruh operator SPPG.
“SPPG yang disuspend dapat kembali beroperasi setelah seluruh rekomendasi perbaikan dipenuhi dan dinyatakan lolos verifikasi ulang," katanya.
Pada Januari 2026, BGN telah menutup 10 dapur SPPG. Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut hal ini karena SPPG tersebut menjadi penyebab terjadinya insiden keracunan atau gangguan pencernaan dalam program Makan Bergizi (MBG) di awal 2026.
“Kami hentikan operasionalnya. Bahkan kalau ditemukan pelanggaran yang fatal, penghentiannya bisa lebih lama dan insentif tidak kami berikan sampai mereka memperbaiki diri,” kata Dadan saat ditemui di kompleks DPR RI, Selasa (20/1).
BGN menyayangkan kejadian keracunan ini masih terjadi di program MBG. Mereka sebelumnya telah menargetkan agar tidak terjadi lagi insiden keracunan dalam program MBG di 2026.
Meskipun memang tren keracunan sudah menurun sejak akhir 2025. Puncak kejadian keracunan terjadi pada Oktober 2025 sebanyak 85 kasus, kemudian menurun jadi 40 kejadian pada November 2025, 12 kejadian di Desember 2025, dan 10 kejadian pada Januari 2026.
“Namun, ternyata masih terjadi, dan ini sangat kami sesalkan,” ujarnya.