Newsweek: Iran Unggul di Perang Lawan AS-Israel
Kantor media asal Amerika Newsweek menyebut Iran sedang berada di atas angin dalam konflik bersenjata melawan pasukan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Asumsi ini berdasarkan langkah Washington yang memindahkan sebagian sistem pertahanan udara mereka dari Asia ke Timur Tengah.
Pemindahan itu mengindikasikan adanya tekanan yang dihadapi militer AS di tengah serangan balasan Iran di sejumlah negara di kawasan. Operasi militer gabungan antara AS dan Israel terhadap Iran memicu gelombang serangan balasan dari Teheran ke beberapa negara di Timur Tengah. Serangan balasan Iran semakin agresif setelah Pemimpin Tertinggi (Ayatullah) Ali Hosseini Khamenei gugur dalam operasi pasukan gabungan AS dan Israel pada Sabtu (28/2) lalu.
Militer Iran kini menargetkan sejumlah fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Teluk. Selain itu, Iran juga melancarkan serangan udara ke Kantor Kedutaan Besar AS di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, pada Selasa (3/3) dini hari waktu setempat.
Serangan itu memicu kebakaran di area kompleks diplomatik. Langkah Iran mendorong negara-negara Teluk Arab mengecam tindakan Teheran, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania.
Newsweek menyebut langkah AS yang memindahkan sebagian sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan menunjukkan tekanan yang dialami militer AS setelah lebih dari sepuluh hari perang melawan Iran.
Newsweek melaporkan pemindahan sistem pertahanan ini menjadi indikasi bahwa serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah telah menguras sumber daya pertahanan udara Washington.
Markas Besar Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, juga dilaporkan menarik rudal pencegat dari sistem pertahanan udara Patriot yang sebelumnya ditempatkan di berbagai kawasan di Indo-Pasifik. Namun, Pentagon menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut saat dihubungi oleh Newsweek.
AS Pindahkan Sistem Pertahanan Udara dari Korsel
Sejak AS memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, kedua pihak saling melancarkan serangan rudal dan drone di berbagai wilayah Timur Tengah. Konflik ini juga memicu tekanan terhadap stok amunisi dan sistem pertahanan udara milik AS, seperti THAAD dan rudal Patriot.
Sejumlah negara Teluk yang menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran mengandalkan sistem pertahanan udara dan rudal buatan AS. Militer Iran mengklaim berhasil menghantam sedikitnya empat radar sistem THAAD di beberapa pangkalan militer di Timur Tengah, termasuk radar di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal pada Jumat pekan lalu bahwa Washington tengah mengganti radar sistem THAAD yang rusak akibat serangan drone di Yordania. Newsweek menyebut sistem THAAD merupakan salah satu alat utama untuk mencegat rudal balistik yang sering digunakan Iran. Sistem tersebut bekerja dengan menghancurkan rudal musuh pada tahap akhir penerbangan menggunakan radar berdaya tinggi dan rudal pencegat berkecepatan tinggi.
Di sisi lain, Pemerintah Korea Selatan (Korsel) khawatir setelah AS dikabarkan akan memindahkan sistem rudal Patriot dan rudal balistik THAAD dari Semenanjung Korea ke Timur Tengah untuk menghadapi Iran. Langkah tersebut dikhawatirkan dapat melemahkan daya tangkal militer Korsel terhadap ancaman Korea Utara di Semenanjung Korea.
Presiden Korsel, Lee Jae Myung, mengatakan pemerintahnya telah menyampaikan keberatan atas rencana pemindahan sistem pertahanan udara tersebut. Seoul khawatir langkah itu dapat melemahkan pertahanan mereka menghadapi ancaman Korea Utara.
Presiden AS Donald Trump menepis kekhawatiran tentang cepatnya pasukan Amerika Serikat menghabiskan persenjataan dalam operasi militer melawan Iran. Ia juga menyebut pasokan persenjataan masih cukup untuk mempertahankan pangkalan militer AS dan negara-negara sekutu yang menjadi sasaran serangan Iran.