DPR Desak Investigasi Gugurnya 3 TNI di Lebanon, Soroti Dugaan Kejahatan Perang

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU
Pasukan Kontingen Garuda UNIFIL mengikuti upacara Pelepasan Satgas TNI Kontingen Garuda UNIFIL 2025 di Lapangan Prima, Mabes TNI, Jakarta, Rabu (9/4/2025).
31/3/2026, 12.56 WIB

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta adanya penyelidikan dari gugurnya tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lebanon. Mereka membuka kemungkinan adanya kejahatan perang dalam insiden tersebut.

Dua anggota TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon atau UNIFIL meinggal setelah kendaraan mereka terkena ranjau. Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Akbarshah Fikarno Laksono menilai penanaman ranjau tersebut dapat menjadi kejahatan perang jika dipasang di jalur umum.

"Siapa yang menanamkan ranjau? Kenapa jalur tersebut bisa dilintasi patroli dari TNI? Harus ada investigasi yang melibatkan semua pihak dan dilakukan secara terbuka, sehingga keadilan benar-benar ditegakkan," kata Dave di Gedung DPR, Selasa (31/3).

Berdasarkan laman resmi PBB, tugas utama UNIFIL adalah menjaga agar tidak ada militer asal Israel yang memasuki kawasan selatan Lebanon. Adapun kawasan tersebut telah menjadi lokasi konflik antara tentara Israel dan kelompok bersenjata asal Lebanon Hizbullah.

Dave belum memberikan kecaman formal terhadap Israel maupun Hizbullah atas gugurnya tiga anggota TNI selama 29-31 Maret 2026. Sebab, legislator masih menunggu hasil investigasi khusus dan mendalam atas kejadian tersebut.

Dave mengatakan, dari informasi yang diterimanya, petugas yang mengevakuasi dua anggota TNI yang meninggal kerap dihujani peluru. Menurutnya, prajurit TNI selalu memiliki risiko kehilangan nyawa saat bertugas.

Walau demikian, Dave menegaskan tugas utama anggota TNI dalam UNIFIL adalah menjaga perdamaian, bukan konflik bersenjata. Karena itu, Dave mendorong pemerintah untuk mengevaluasi pengiriman anggota TNI ke Asia Barat sebelum melakukan peremajaan pasukan pada Mei 2026.

"Kalau memang perang masih berkecamuk di Selatan Lebanon, harus ada ketegasan baik dari PBB maupun Mabes TNI," katanya.

Maka dari itu, Dave berencana memanggil Panglima TNI Agus Subiyanto untuk mendapatkan penjelasan soal posisi Mabes TNI dalam pengiriman TNI dalam UNIFIL. Namun Dave mengaku belum ada jadwal pasti untuk agenda tersebut secara khusus.

Kepala Operasi Perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix telah mengecam insiden pada 29-30 Maret 2026. Menurutnya, pasukan perdamaian tidak boleh menjadi target militer sama sekali.

Karena itu, Lacroix mengatakan pihaknya sedang melakukan investigasi untuk menentukan kondisi yang menewaskan tiga anggota TNI tersebut. Sedangkan Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel menyampaikan proses investigasi tidak akan rampung dalam waktu dekat.

Sebab, UNIFIL belum memiliki informasi jelas terkait kondisi yang menewaskan tiga anggota TNI. Walau demikian,UNIFIL menegaskan tujuan investigasi adalah menemukan kondisi-kondisi tersebut.

"Kami akan menuntut pihak yang bertanggung jawab dan memberikan protes formal berdasarkan hasil investigasi," kata Ardiel dalam keterangan resmi, Senin (30/3).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief