Pemerintah Alihkan Bahan Baku Plastik dari Timur Tengah ke India
Pemerintah tengah mencari sumber alternatif bahan baku plastik berupa nafta dari sejumlah negara di kawasan Afrika, India, dan Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil menyusul kelangkaan dan kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, menyampaikan lonjakan harga plastik merupakan dampak dari situasi geopolitik global, khususnya konflik yang mempengaruhi pasokan nafta dari Timur Tengah. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku tersebut dari Timur Tengah.
"Ini bagian dari dampak dari perang karena bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta kita impor dari Timur Tengah," kata Budi di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (1/4).
Nafta merupakan salah satu bahan utama bijih plastik yang merupakan produk sampingan hasil penyulingan minyak bumi mentah dengan titik didih 30°C sampai 200°C. Nafta menjadi bahan baku krusial dalam pembuatan plastik, resin, serat sintetis, dan bahan baku kimia industri lainnya.
Hasil senyawa kimia dari nafta termasuk etilena yang digunakan dalam pembuatan kantong plastik dan kosmetik, benzena yang digunakan dalam pembuatan nilon dan sterofoam, hingga paraxylene yang digunakan dalam pembuatan botol minum (Polyethylene Terephthalate) dan PVC (Polyvinyl Chloride).
Budi menyatakan bahwa pemerintah kini berupaya mengalihkan sumber impor ke negara lain untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga plastik domestik. Namun, proses peralihan ini tidak dapat dilakukan secara instan karena memerlukan penyesuaian logistik, kontrak kerja sama, hingga kesiapan suplai dari negara tujuan.
"Pemerintah sekarang mencari alternatif pengganti dari negara lain. Dan kita sudah melakukan misalnya dari Afrika, India dan Amerika Serikat. Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah pindah ke negara lain," ujarnya.
Selain mencari alternatif pasokan bahan baku, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan asosiasi dan pelaku industri guna memastikan kebutuhan bahan baku tetap terpenuhi.
Budi mengatakan sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri turut dikerahkan untuk menjajaki pemasok baru yang dapat mengekspor nafta ke Indonesia. "Jadi kita harapkan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal," ujarnya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) sebelumnya mengakui dirinya menerima keluhan dari banyak pedagang terkait harga plastik. Dia menyebut lonjakan ini disebabkan oleh naiknya harga bahan baku bijih plastik.
“Naiknya luar biasa, karena bijih plastik itu kan (produk turunan) bahan bakar minyak (BBM),” kata Zulhas dalam acara Pantauan Harga Barang Kebutuhan Pokok di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3).
Sejumlah perusahaan petrokimia Asia mengumumkan keadaan memaksa atau force majeure karena gangguan pasokan bahan baku nafta. Hal ini imbas perang di Timur Tengah yang memanas dan mengancam penutupan Selat Hormuz.
Mayoritas atau 54% pasokan nafta Asia disuplai dari Timur Tengah, terutama dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Di Indonesia, raksasa petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan force majeure pada awal Maret. “Sebagai mitigasi, kami akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabrik kami,” kata Manajemen TPIA yang dikutip Rabu, (4/3).
Perusahaan petrokimia Asia lainnya juga melakukan langkah serupa, seperti Petrochemical Corporation of Singapore dan Aster Chemicals and Energy asal Singapura, Yeochun NCC asal Korea Selatan, Siam Cement Group asal Thailand, hingga Sumitomo Chemical asal Jepang.