BMKG akan Uji Sistem Peringatan Dini Gempa, Beri Waktu 20 Detik untuk Evakuasi

ANTARA FOTO/Andri Saputra/rwa.
Petugas BMKG memperlihatkan pusat titik lokasi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulut dan Malut melalui layar monitor di Kantor BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026). Gempa bumi yang terjadi pukul 06.48 WIT tersebut berlokasi di koordinat 1.21 lintang utara dan 126.25 bujur timur pada kedalaman 18 km di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara tersebut mengakibatkan bangunan rumah warga di Kelurahan Gambesi Ternate mengalami kerusakan r
Penulis: Agustiyanti
2/4/2026, 20.42 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersiap menguji coba sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System/EEWS. Sistem ini mampu memberikan jeda waktu hingga 20 detik bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi sebelum guncangan utama terjadi.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan uji coba tersebut akan dilakukan pada bulan ini di Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung. Pihaknya telah melalukan pengembangan terhadap sistem ini selama satu hingga dua tahun terakhir.

"Pada bulan ini kami akan mencoba melakukan operasionalisasi dari sistem Earthquake Early Warning System," kata dia.

Dia menjelaskan, sistem tersebut bekerja dengan mendeteksi gelombang primer (P-wave) yang muncul lebih cepat dibandingkan gelombang sekunder (S-wave) yang bersifat lebih merusak. 

Melalui pemantauan gelombang awal tersebut, menurut dia,, sistem dapat memperkirakan waktu kedatangan guncangan utama sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk mengambil langkah penyelamatan.

“Bergantung pada jarak dari pusat gempa, sistem ini dapat memberikan waktu dari belasan detik hingga sekitar 20 detik sebelum guncangan kuat dirasakan,” ujarnya.

Faisal menegaskan, teknologi ini tidak digunakan untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan memberikan peringatan saat gempa mulai berlangsung.

BMKG optimistis dalam kurun waktu singkat tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai tindakan mitigasi seperti berlindung di tempat aman, menuju titik evakuasi, hingga menghentikan aktivitas berisiko.

Sistem ini merupakan hasil kerja sama BMKG dengan mitra pengembang yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir dan memerlukan investasi yang cukup besar, khususnya dalam pemasangan sensor dan penguatan jaringan pemantauan.

Hal ini penting dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara berpotensi tinggi terdampak bencana gempa bumi yang semakin diperkuat dengan adanya 13 area-area subduksi atau dikenal dengan zona-zona Megathrust.

Dengan uji coba ini, BMKG berharap masyarakat dapat semakin memahami pentingnya respons cepat dalam menghadapi gempa. Dengan demikian, risiko korban jiwa dan kerusakan dapat diminimalkan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara