Prabowo Sebut Indonesia Aman dari Perang Dunia Ketiga

Katadata/Fauza Syahputra
Suasana gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2025).
8/4/2026, 17.45 WIB

Presiden Prabowo Subianto menilai Indonesia menjadi salah satu negara yang relatif aman jika terjadi perang dunia ketiga. Ia menyampaikan hal itu saat memberikan taklimat Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (8/4).

"Kalau terjadi perang dunia ketiga, negara mana yang aman? Indonesia termasuk papan atas, loh. Sekarang kau ke Bali, kau lihat tuh berapa orang Rusia dan Ukraina di sana," kata Prabowo.

Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang relatif stabil dan diminati oleh para investor, termasuk para pemodal dari kawasan Timur Tengah.

"Gagasan ini yang dibicarakan Pak Luhut ke saya bertahun-tahun ini, ternyata sekarang uang-uang yang di Timur Tengah dia mau kemana? Negara mana yang tidak perang sekarang, Indonesia salah satu yang paling diminati," ujarnya.

Prabowo sebelumnya mengatakan seluruh negara di dunia mengkhawatirkan terjadinya perang dunia ketiga.

Prabowo mengatakan saat mengunjungi World Economy Forum di Davos, Swiss, banyak kepala negara khawatir dengan penggunaan nuklir dalam perang dunia ketiga.

Pemimpin dunia mengkhawatirkan perang nuklir akan menyebabkan musim dingin atau nuclear winter dan kontaminasi radiasi akibat partikel radioaktif akibat meledaknya bom nuklir.

"Indonesia yang tidak terlibat saja pasti akan kena dampak partikel-partikel radioaktif akibat perang nuklir. Ikan-ikan kita mungkin akan terkontaminasi semua," kata Prabowo dalam saluran resmi Sekretariat Presiden, Senin (2/2).

Seperti diketahui, WEF 2026 telah didatangi oleh 65 kepala negara, 400 pimpinan politik, dan 850 pimpinan perusahaan multinasional. Secara umum, forum tersebut dihadiri oleh hampir 3.000 peserta yang berasal lebih dari 130 negara.

Prabowo menyampaikan dampak perang nuklir menjadi kekhawatiran lantaran nuclear winter dapat berlangsung selama puluhan tahun. Menurutnya, kondisi tersebut akan diperburuk dengan ideologi politik internasional Indonesia, yakni non-blok.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu