Survei KIMCI 2026: Harga Mahal Kesehatan untuk Kelas Menengah di Indonesia
Riset Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 mengungkap, penurunan kesehatan menjadi hal yang paling dikhawatirkan masyarakat kelas ekonomi menengah saat memasuki masa pensiun. Hal ini disepakati oleh sebanyak 62,3% dari 884 responden yang terlibat dalam survei tersebut.
Selain masalah kesehatan, kekhawatiran lainnya yang diungkap riset KIMCI 2026 muncul berupa kurangnya pendapatan (47,1%), dan peningkatan biaya pengobatan dan perawatan (45,1%). Ada pula dilema soal peningkatan inflasi dan biaya hidup (44,2%), serta kurangnya tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup (43,3%).
Tak hanya itu, kekhawatiran akan penurunan kesehatan ini diikuti persoalan biaya yang masih menjadi beban utama bagi masyarakat kelas menengah, saat menilai pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan survei dalam riset tersebut, kebutuhan biaya tinggi untuk kesehatan tidak lepas dari pilihan masyarakat untuk beralih ke rumah sakit swasta yang dianggap lebih mumpuni dari rumah sakit pemerintah.
“Meski lebih dipercaya, tingginya biaya perawatan di rumah sakit swasta ditakutkan dapat menghabiskan tabungan dan membebani keuangan dalam sekejap,” demikian dikutip dari laporan KIMCI, Rabu (14/4).
Rumah sakit swasta mendapat skor 7,50 dari 10 dan cenderung menjadi pilihan responden survei dengan mempertimbangkan ketersediaan layanan kesehatan yang memadai. Berikutnya disusul klinik dengan skor 7,10; puskesmas dengan skor 6,77; serta rumah sakit pemerintah dengan skor 6,46.
Sebelum memasuki masa pensiun banyak responden yang memilih berjaga-jaga dengan menjalankan pola hidup sehat, mengumpulkan tabungan darurat, memulai usaha sendiri atau menjadi wiraswasta, atau mengikuti program asuransi jiwa dan kesehatan.
Masalah kesehatan ini baru satu dari empat keresahan kelas menengah di tengah himpitan ekonomi saat ini. Menurut survei tersebut, keresahan masyarakat kelas menengah mencakup penurunan kesehatan di hari tua, kesulitan memiliki rumah sendiri, memastikan penghasilan cukup untuk kebutuhan, serta tantangan memberikan pendidikan berkualitas untuk anak.
Survei dalam riset ini secara keseluruhan diikuti oleh 1.000 responden berusia 18-60 tahun. Responden tersebar di Jawa (59,3%), Sumatra (19,6%), Bali dan Nusa (5,9%), Kalimantan (7,6%), Sulawesi (5,7%), serta Maluku Papua (1,9%). Penghasilan para responden berkisar Rp2-10 juta per kapita per bulan.