Prabowo Matangkan Giant Sea Wall, Dibagi 15 Segmen dari Serang hingga Gresik
Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri ke Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (12/5) untuk membahas proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura). Proyek itu rencananya akan dibagi dalam 15 segmen, salah satunya berada di kawasan Teluk Jakarta.
Kapala Badan Otorita Tanggul Laut Pantai Utara (Pantura) Jawa, Didit Herdiawan Ashaf, menyampaikan telah mengidentifikasi rencana pembangunan giant sea wall akan terbentang dalam 15 segmen dari Serang, Banten hingga Gresik, Jawa Timur.
Pembangunan giant sea wall belakangan menjadi narasi mendesak guna menangani persoalan penurunan muka tanah dan banjir rob yang mengancam kawasan pesisir utara Jawa. Menurut Didit, kawasan Pantura Jawa merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi nasional karena terhadap sejumlah kawasan industri.
“Sudah kami laporkan bahwa di Pantura Jawa ada 15 segmen. Dan sedang didalami,” kata Didit dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan Prabowo.
Sejumlah titik seperti Teluk Jakarta, wilayah Jawa Barat, dan Jawa Tengah masuk dalam prioritas awal pembahasan. Namun, Sigit mengatakan pihak pemerintah masih melakukan asesmen lanjutan sebelum menetapkan lokasi pembangunan tahap awal.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan itu menyebut bahwa persoalan utama yang ditemukan di kawasan pesisir utara Jawa adalah banjir rob dan penurunan muka tanah yang berdampak langsung terhadap permukiman dan aktivitas ekonomi warga pesisir.
“Hampir semua di Pantura ada kegiatan ekonomi rakyat yang bergiat di kelautan dan perikanan. Ada petani, nelayan, petambak. Ini harus kami tampung,” ujar Didit.
Didit mengatakan skema pelaksanaan proyek masih dalam tahap perencanaan, termasuk penyusunan jadwal dan tahapan waktu. “Untuk timeline sedang kami atur pelaksanaan kegiatannya ini,” ujarnya.
Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, menyampaikan pihaknya membuka peluang untuk terlibat dalam pembiayaan proyek pengembangan giant sea wall. Danantara saat ini tengah mengkaji berbagai skema pengembangan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan tanggul laut, tetapi juga pada penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang kawasan proyek.
“Kami sedang melihat, memberikan masukan, dan melakukan kajian. Sehingga nanti bisa tercipta suatu titik perekonomian baru di tidak hanya di Jakarta, tapi juga di tempat yang akan dibangun giant sea wall ini,” kata Rosan pada kesempatan serupa.
Selain Didit dan Rosan, diskusi pembangunan giant sea wall juga diikuti oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, serta Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.
Narasi mengenai rencana percepatan pembangunan tanggul laut raksasa di Pesisir Utara Jakarta telah berlangsung sejak era Pemerintahan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Pencanangan pembangunan giant sea wall di Pulau Jawa telah diawali dengan pengadaan tanggul laut di wilayah pesisir DKI Jakarta senilai Rp 164,1 triliun.
Pembangunan giant sea wall di Pantura dinilai mendesak seiring laju penurunan tanah Pantura berada di kisaran 1-25 centimeter (cm) per tahun. Di sisi lain, terdapat ancaman dari lepas pantai berupa kenaikan permukaan air laut hingga 1-15 cm per tahun di beberapa lokasi serta fenomena banjir Rob.
Adapun estimasi kerugian ekonomi secara langsung akibat banjir tahunan di Pesisir Jakarta mencapai Rp 2,1 triliun per tahun. Angka ini bisa meningkat terus setiap tahunnya hingga mencapai Rp 10 triliun per tahun dalam 10 tahun ke depannya.