Optimalisasi Persalinan di FKTP, Bidan Jadi Garda Depan Jaga Kesinambungan JKN

Dok. BPJS Kesehatan
Bidan menjadi garda terdepan layanan kesehatan ibu dan anak dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Melalui penguatan layanan primer, bidan berperan penting dalam mendukung persalinan yang aman, menekan rujukan yang tidak perlu, serta menjaga keberlanjutan pembiayaan JKN.
19/6/2026, 17.02 WIB

Dalam rangka memperingati Hari Bidan Nasional, penguatan layanan kesehatan ibu dan anak terus didorong melalui kolaborasi BPJS Kesehatan dengan bidan sebagai jejaring fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), bidan memegang peran vital sebagai ujung tombak layanan pemeriksaan kehamilan hingga persalinan, termasuk di wilayah pelosok dan sulit dijangkau.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menegaskan bahwa keberadaan bidan mitra menjadi tulang punggung pelayanan primer. “Bidan sebagai jejaring FKTP BPJS Kesehatan memiliki peran besar dalam memperkuat layanan primer, mulai dari pemeriksaan kehamilan hingga persalinan normal, termasuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil,” ujarnya, Jumat (19/06).

Rizzky menjelaskan bahwa dalam kurun 2021–2025, layanan persalinan normal di FKTP tetap menjadi andalan dengan 4,14 juta kasus dan total pembiayaan sekitar Rp3,19 triliun. Namun di sisi lain, pemanfaatan layanan persalinan di rumah sakit juga masih tergolong besar. Data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa jumlah persalinan caesar secara konsisten berada pada angka tinggi dalam beberapa tahun terakhir. 

“Pada 2021 tercatat sekitar 1,04 juta kasus persalinan caesar, kemudian meningkat secara bertahap menjadi 1,16 juta pada 2022, sekitar 1,34 juta pada 2023, 1,35 juta pada 2024, hingga mencapai kurang lebih 1,40 juta kasus pada 2025, dengan total pembiayaan selama 5 tahun mencapai lebih dari Rp36,2 triliun,” kata Rizzky.

Ia menambahkan bahwa tren tersebut menunjukkan pemanfaatan layanan di rumah sakit tetap tinggi, terutama untuk tindakan persalinan caesar, meskipun peningkatannya berlangsung bertahap. Hal ini menjadi salah satu perhatian dalam mendorong optimalisasi layanan persalinan di tingkat primer.

Selain itu, pemanfaatan layanan persalinan di rumah sakit juga tergolong tinggi. Persalinan pervaginam di rumah sakit mencapai ratusan ribu kasus setiap tahun, sementara persalinan caesar tetap mendominasi layanan di tingkat rujukan. Melihat tren tersebut, Rizzky menekankan pentingnya penguatan peran bidan sebagai solusi. 

“Pemanfaatan persalinan di rumah sakit sebenarnya masih dapat ditekan melalui penguatan peran bidan di layanan primer. Jika kasus-kasus persalinan normal dapat ditangani optimal di FKTP, maka rujukan ke rumah sakit bisa lebih selektif dan sesuai indikasi medis,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa ke depan diperlukan evaluasi kebijakan, termasuk dari sisi tarif layanan. “Rasionalisasi tarif ke depan yang akan dievaluasi oleh Kementerian Kesehatan menjadi bagian penting agar layanan persalinan berjalan lebih efektif dan efisien sesuai level pelayanan,” lanjutnya.

Menurut Rizzky, efektivitas pemanfaatan layanan persalinan akan berdampak luas terhadap keberlanjutan Program JKN. “Jika pemanfaatan layanan persalinan sudah efektif, yakni kasus yang bisa diselesaikan di layanan primer tidak perlu naik ke rumah sakit. Dengan demikian secara tidak langsung akan memperkuat Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan serta menjaga kesinambungan Program JKN ke depan,” tegasnya.

Data BPJS Kesehatan hingga 2026 juga menunjukkan besarnya dukungan jaringan layanan oleh bidan, dengan 8.698 praktik bidan jejaring dan 159.379 bidan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama.

Bidan Garda Terdepan untuk Pelayanan Berkesinambungan

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dr. Ade Jubaedah, menegaskan bahwa bidan merupakan garda terdepan layanan kesehatan ibu. “Bidan Indonesia berjumlah sekitar 600.000 yang terdaftar, dan 400.000 sudah terdaftar dalam IBI, dengan sekitar 70 persen berada di layanan primer. Bidan adalah frontline sekaligus gatekeeper JKN, karena sekitar 80 persen keluhan ibu dan anak pertama kali datang ke bidan,” jelas Ade, Kamis (18/06).

Ia menambahkan bahwa bidan juga menjalankan pelayanan berkesinambungan (continuity of care) sejak masa remaja, calon pengantin, kehamilan, hingga persalinan dan pascapersalinan. Upaya ini penting mengingat tingginya angka anemia pada perempuan Indonesia, yakni sekitar 26 persen pada remaja putri dan 48 persen pada ibu hamil.

“Dengan skrining dan deteksi dini yang optimal, persalinan normal bisa ditingkatkan dan komplikasi dapat dicegah, sehingga berdampak pada penurunan angka kematian ibu dan bayi,” terangnya.

Kolaborasi lintas profesi juga menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan persalinan. Bidan bekerja sama dengan dokter umum, dokter spesialis kandungan, dan tenaga kesehatan lainnya. ”Ke depan, penguatan layanan primer melalui bidan diharapkan mampu menyeimbangkan tren persalinan, meningkatkan efisiensi pembiayaan, serta memastikan keberlanjutan Program JKN,” kata Ade.

Di tengah tren meningkatnya persalinan caesar, bidan terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya persalinan normal jika kondisi memungkinkan. Seorang bidan praktik mandiri menyampaikan bahwa persalinan normal memiliki banyak keunggulan, mulai dari pemulihan lebih cepat hingga risiko komplikasi yang lebih rendah.

Di lapangan, bidan juga menghadapi dinamika preferensi masyarakat. Bidan Dewi Pristie (34) dari Kabupaten Temanggung mengungkapkan bahwa saat ini pilihan metode persalinan di kalangan ibu cukup beragam. “Di era digital ini kecenderungannya cukup berimbang. Banyak ibu yang mengupayakan persalinan normal karena memahami manfaatnya, tetapi tidak sedikit juga yang akhirnya menjalani persalinan caesar karena pertimbangan medis dan keselamatan ibu serta bayi,” ujar Dewi, Jumat (19/06).

Menurut Dewi, edukasi menjadi kunci untuk mengurangi ketakutan ibu terhadap persalinan normal. Ia menekankan bahwa keunggulan utama persalinan normal adalah proses pemulihan yang lebih cepat. 

“Ibu pasca persalinan normal biasanya bisa langsung mobilisasi, duduk, berjalan, dan yang paling penting bisa segera melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan lebih nyaman,” jelasnya.

Dalam praktik pelayanan, bidan juga melakukan berbagai pendekatan untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu hamil, mulai dari komunikasi terapeutik, edukasi tahapan persalinan, hingga melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung. Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait mitos dan disinformasi yang berkembang di masyarakat.

“Sering kali kami menghadapi persepsi yang kurang tepat tentang persalinan, baik dari media sosial maupun lingkungan sekitar. Padahal, yang paling penting adalah keselamatan ibu dan bayi, bukan sekadar metode persalinan,” tambah Dewi. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.