Prabowo Sebut Kebocoran Ekonomi jadi Penyebab Gaji Guru dan Pegawai Negeri Sulit

ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nz
Presiden Prabowo Subianto (tengah) menyampaikan paparan di depan siswa dan orang tuanya saat melakukan peninjauan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6/2026).
23/6/2026, 18.46 WIB

Presiden Prabowo Subianto menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan gaji guru dan pegawai negeri sipil belum dapat meningkat secara signifikan. Ia menilai kebocoran kekayaan negara dan aliran dana ke luar negeri selama puluhan tahun telah mengurangi kemampuan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan aparatur negara.

Prabowo menyampaikan hal tersebut saat memberikan pidato penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, pada Selasa (23/6).

Mulanya Prabowo menilai pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama ini tidak dinikmati secara merata oleh masyarakat. Ia menyebut bertambahnya jumlah penduduk miskin dan menyusutnya kelompok kelas menengah menunjukkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh sebagian kecil kelompok masyarakat.

Pada forum tersebut, Prabowo menyampaikan pandangannya mengenai aliran keluar kekayaan nasional atau net outflow of national wealth. Ia menilai kekayaan Indonesia selama puluhan tahun terus mengalir ke luar negeri sehingga manfaatnya tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat di dalam negeri.

“Kekayaan nasional kita mengalir keluar negeri, dan ini diakui oleh PBB,” kata Prabowo, sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan data perdagangan internasional menunjukkan Indonesia sebenarnya memperoleh keuntungan besar dari aktivitas ekonominya selama beberapa dekade terakhir.

Ia menyebut data United Nations Comtrade yang diolah Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperlihatkan Indonesia mencatat surplus dalam sebagian besar periode 22 tahun terakhir.

Menurut Prabowo, Indonesia hanya mengalami kondisi yang kurang menguntungkan selama lima tahun dalam rentang tersebut. Sementara itu, selama 17 tahun lainnya Indonesia mencatat keuntungan kumulatif sekitar US$436 miliar.

Prabowo juga menyampaikan bahwa nilai kekayaan nasional yang dihimpun Indonesia selama 42 tahun terakhir diperkirakan mencapai sekitar US$683 miliar. Ia menilai angka tersebut menunjukkan Indonesia sesungguhnya memiliki potensi ekonomi yang besar dan kemampuan menghasilkan kekayaan dalam jumlah signifikan.

“Selama 22 tahun, uang yang keluar itu US$ 343 miliar. Jadi, ada keuntungan US$436 miliar, yang keluar US$343 miliar. Yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang keluar,” ujarnya.

Prabowo juga mengatakan praktik pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari kondisi riil atau underinvoicing telah menyebabkan negara kehilangan potensi penerimaan dalam jumlah besar selama puluhan tahun.

Ia mengutip data PBB terkait praktik underinvoicing menyebabkan sebagian penerimaan negara hilang karena nilai ekspor yang dilaporkan tidak sesuai dengan volume barang yang diperdagangkan.

Berdasarkan perhitungan pemerintah yang mengacu pada data PBB, Indonesia diperkirakan mengalami kerugian hingga US$908 miliar atau sekitar Rp15.000 triliun selama 34 tahun terakhir. “Para pengusaha itu bohong, katanya dia jual seribu ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi,” ujar Prabowo.

Ketua Umum Partai Gerindra itu juga memproyeksikan Indonesia mengalami kerugian hingga ratusan miliar dolar AS akibat praktik tersebut. Pemerintah juga memperkirakan kebocoran ekonomi nasional mencapai sekitar US$150 miliar atau sekitar Rp2.500 triliun setiap tahun.

Prabowo mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab keterbatasan anggaran negara. Ia menilai kebocoran penerimaan dan keluarnya kekayaan nasional mengurangi kemampuan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru maupun pegawai negeri.

“Mengapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang? Karena uangnya gak ada, diambil terus,” ujarnya. “Kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih US$150 miliar tiap tahun, Rp 2.500 triliun tiap tahun.”

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu