Made by Indonesia Jadi Kunci Wujudkan Industri Dalam Negeri Berkelanjutan

Katadata/Ardhia
Katadata Policy Dialogue bertajuk Made in Indonesia: Membangun Daya Saing Industri yang Berkelanjutan, yang menjadi rangkaian menuju Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2026, di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Editor: Arif Hulwan
28/7/2026, 15.52 WIB

Di tengah transisi menuju ekonomi hijau, Indonesia didorong untuk membangun industrinya sendiri dan tak hanya menarik investasi dari luar. Penguasaan teknologi, kehadiran inovasi, dan kelahiran perusahaan nasional level global jadi prasyaratnya.

Hal ini mengemuka dalam Katadata Policy Dialogue bertajuk Made in Indonesia: Membangun Daya Saing Industri yang Berkelanjutan, yang menjadi rangkaian menuju Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2026, di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Forum ini menegaskan bahwa penguatan daya saing industri hijau membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya untuk menarik investasi, tetapi juga memastikan investasi mampu menghasilkan transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta memperkuat kapasitas industri domestik.

Membuka diskusi, Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi Dimas Muhamad mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dan Vietnam yang mampu mentransformasikan perekonomiannya melalui pembangunan sektor industri.

"Kalau kita ingin menjadi negara maju dan menghadirkan lapangan kerja berkualitas, kita harus memiliki industri yang kokoh sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi," ujarnya.

Menurut Dimas, Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah dengan membangun perusahaan domestik yang menguasai teknologi. Ia menilai keberhasilan industrialisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi yang masuk.

"Made in Indonesia saja belum cukup. Yang kita butuhkan adalah Made by Indonesia. Kita harus memiliki perusahaan nasional yang mampu menyerap teknologi, berinovasi, dan menjadi global champion."

Ia menjelaskan, negara yang berhasil melakukan transformasi industri tidak hanya mengandalkan investasi (investment), tetapi juga mampu menyerap teknologi (infusion) dan menciptakan inovasi (innovation).

Untuk itu, negara perlu hadir melalui kebijakan yang mendorong pengembangan industri strategis, termasuk memberikan ruang bagi inovasi tanpa dibayangi kekhawatiran kriminalisasi atas risiko kebijakan.

"Kalau kita sepakat Indonesia harus melakukan industrialisasi hijau, maka kita juga harus membangun koalisi yang sama kuatnya. Ini bukan sekadar membantu industri, tetapi menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menjadikan Indonesia bangsa yang produktif serta mampu menciptakan teknologinya sendiri," tutur dia.

Senada, Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Ardy Muawin mengatakan tidak ada negara maju yang memiliki industri lemah ataupun bergantung pada teknologi negara lain.

"Tidak ada satu pun negara maju di dunia yang memiliki industri lemah dan tidak menguasai teknologi. Industrialisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal membangun masa depan bangsa."

Menurut Ardy, selama ini Indonesia terlalu bergantung pada ekspor sumber daya alam dan keunggulan tenaga kerja murah. Pola tersebut dinilai tidak cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.

"Kalau kita hanya mengikuti mekanisme pasar, Indonesia akan terus menjual sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Pertanyaannya, apakah itu masa depan yang kita inginkan sebagai sebuah bangsa?" cetus dia.

Melalui Danantara, Ardy melanjutkan, pemerintah berupaya mendorong investasi pada sektor-sektor strategis yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Fokusnya tidak hanya pada hilirisasi sumber daya alam, tetapi juga pembangunan industri baru yang didukung transfer teknologi, pengembangan talenta, dan penciptaan rantai pasok nasional.

"Kami tidak hanya mencari investor. Pertanyaan kami selalu sama, apa teknologi yang bisa dibawa ke Indonesia dan bagaimana teknologi itu dapat ditransfer agar kita mampu membangun kemampuan sendiri."

Penguasaan Teknologi Baterai

Sementara itu, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya F. Arif menjelaskan bahwa penguasaan teknologi menjadi tantangan terbesar dalam membangun industri baterai nasional.

Menurutnya, IBC memulai proses tersebut melalui kemitraan strategis dengan pemain global untuk mempelajari teknologi dan proses manufaktur baterai. Namun, ia menegaskan bahwa kemitraan tersebut hanyalah langkah awal.

Target jangka panjang IBC adalah membangun kapabilitas teknologi nasional agar Indonesia tidak selamanya bergantung pada teknologi asing.

"Kita memulai dari kemitraan dengan pemain global untuk belajar mengoperasikan teknologi. Tetapi kami tidak boleh berhenti di sana. Target akhirnya adalah membangun kapabilitas dan memiliki teknologi sendiri."

Menurut Aditya, industri baterai merupakan sektor yang berkembang sangat cepat sehingga Indonesia perlu memperkuat riset, inovasi, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menyiapkan talenta yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

"Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. Oleh karena itu, IBC tidak hanya berarti Indonesia Battery Corporation. Bagi kami, IBC juga berarti Indonesia Battery Champion," tutup dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.