Survei Ungkap Komunikasi Kemenkes Sangat Baik, Pemahaman Program Masih Jadi PR
Kinerja komunikasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetap mendapat apresiasi tinggi dari publik sepanjang 2025. Meski demikian, pemerintah masih menghadapi pekerjaan rumah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sejumlah program kesehatan prioritas.
Hasil Survei Opini Publik terhadap Diseminasi Informasi Program dan Kebijakan Kemenkes 2025 yang dilakukan Katadata Insight Center bersama Kementerian Kesehatan menunjukkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap komunikasi Kemenkes mencapai 3,59 dari skala 4. Capaian tersebut menempatkan kinerja komunikasi Kemenkes dalam kategori "Sangat Baik" dan konsisten bertahan pada level yang sama sejak 2023.
Survei ini melibatkan 1.785 responden yang pernah mengakses kanal komunikasi resmi Kemenkes, terdiri atas masyarakat umum, tenaga kesehatan, dan jurnalis dari berbagai wilayah di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui survei daring yang dilengkapi dengan diskusi kelompok terfokus (focus group discussion/FGD) serta wawancara mendalam.
Kepuasan dari kalangan masyarakat umum menunjukkan tren positif, naik dari 3,59 pada 2024 menjadi 3,61 tahun ini. Sebaliknya, penilaian dari tenaga kesehatan (3,53) dan jurnalis (3,15) mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Bisa menjadi sebuah sinyal bahwa kepuasan kelompok "awam" terhadap komunikasi Kemenkes tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan penilaian kelompok yang lebih dekat dengan isu kesehatan sehari-hari.
Awareness Tinggi, tapi Pemahaman Masih Timpang
Survei ini juga menyoroti sejauh mana publik mengenali tiga program andalan Kemenkes: Cek Kesehatan Gratis, Peningkatan Kapasitas RSUD, dan Pengentasan TBC. Hasilnya, tingkat pengenalan (awareness) terhadap ketiga program tersebut tergolong tinggi:
Program Cek Kesehatan Gratis menjadi program paling dikenal publik, 97,9% responden mengetahui keberadaannya. Sebagian besar responden pun sudah memahami dengan tepat bahwa program ini mencakup pemeriksaan kesehatan dasar sesuai kelompok usia (92,5%).
Kemudian, Program Peningkatan Kapasitas RSUD mencatat rasio awareness-kepemahaman paling seimbang di antara ketiganya: dari 85,7% responden yang mengetahui program ini, sebanyak 74,3% di antaranya juga memahami substansinya dengan cukup baik, terutama terkait penambahan fasilitas seperti ruang IGD, ICU, dan rawat inap.
Sementara itu, pemahaman publik terhadap Program Pengentasan TBC nampaknya masih belum menyeluruh. Sebanyak 91,9% responden mengetahui keberadaan program ini, dan mayoritas juga sudah mempraktikkan perilaku pencegahan dasar, seperti memakai masker saat batuk (82,7%) dan menutup mulut atau hidung saat bersin (72,7%). Namun, ketika ditanya lebih dalam tentang bagaimana TBC sebenarnya menular, hanya 21,9% responden yang mampu menjawab dengan tepat.
Dengan kata lain, publik sudah terbiasa menjalankan perilaku pencegahan yang dianjurkan, tapi belum tentu memahami alasan ilmiah di baliknya. Kondisi ini terlihat dari masih adanya kekeliruan pemahaman tentang cara penularan TBC: sebagian responden meyakini TBC bisa menular lewat berbagi alat makan (66,6%) atau berbagi makanan (58,2%), padahal secara medis penularan utama TBC terjadi lewat udara (droplet), bukan melalui kontak dengan alat makan atau makanan.
Lebih lanjut dari sisi persepsi, informasi kesehatan yang disampaikan Kemenkes dinilai cukup berdampak: 9 dari 10 responden merasa informasi tersebut memotivasi mereka untuk melakukan pemeriksaan dini saat muncul gejala TBC, sekaligus membantu mengurangi stigma terhadap penderita.