Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp8.000 T pada Kuartal II 2026

Vecteezy.com/Bigc Studio
Ilustrasi utang, pertukaran utang (debt switching)
Editor: Yuliawati
18/8/2026, 14.29 WIB

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$453,4 miliar atau Rp 8.070,52 triliun (asumsi kurs Rp 17.800). Posisi tersebut tumbuh 4,4% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) menyatakan kenaikan ULN tersebut terutama didorong oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral. Sementara itu, kontraksi ULN swasta tercatat lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Posisi ULN pemerintah pada kuartal II 2026 mencapai US$216,3 miliar (Rp 3.849 triliun) atau tumbuh 2,9% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 3,8%.

BI menjelaskan perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.

Pemerintah juga disebut tetap berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu.

"Posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang," demikian keterangan BI dikutip, Selasa (18/8).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah antara lain digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan porsi 22% dari total ULN pemerintah. Kemudian administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6%; jasa pendidikan 16,2%; konstruksi 11,5%; serta transportasi dan pergudangan 8,5%.

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong kenaikan kepemilikan nonresiden terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Di sisi lain, posisi ULN swasta pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$194,6 miliar (Rp 3.463 triliun). Angka tersebut masih mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan, tetapi membaik dibandingkan kontraksi 1,3% pada kuartal I 2026.

Perbaikan tersebut terutama didorong oleh ULN lembaga keuangan (financial corporations) yang mengalami kontraksi 3,4%. Kontraksi ini lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 6,3%.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut mencakup 79,4% dari total ULN swasta.

Struktur ULN swasta juga didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,7% dari total ULN swasta.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan struktur ULN Indonesia secara keseluruhan masih sehat. Hal tersebut tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 30,6% pada kuartal II 2026.

Selain itu, ULN Indonesia didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa 82,1% dari total ULN. "Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya," ujar Ramdan.

Menurut dia, BI bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN untuk menjaga struktur utang tetap sehat.

Indonesia juga akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah