Jejak Guruh Soekarnoputra Mengabadikan Indonesia Lewat Musik dan Gerak

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2019-2024, Puti Guntur Soekarno (kiri), Guruh Soekarnoputra (kedua kiri), Krisdayanti (ketiga kanan) melambaikan tangan usai pelantikan di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/10/2019).
Penulis: Ahmad Islamy
26/9/2026, 12.02 WIB

Indonesia baru saja kehilangan salah satu seniman yang selama puluhan tahun mengabdikan karya-karyanya pada musik, tari, dan kebudayaan nasional. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, atau yang lebih dikenal sebagai Guruh Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026 pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Ia mengembuskan napas terakhir di usia 73 tahun.

Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 sebagai putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap seni. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat, pada usia sekitar lima tahun, Guruh sudah belajar tari Jawa, Sunda, dan Bali, bermain piano, serta mementaskan tari di atas panggung. Ia juga membentuk kelompok musik anak-anak pada masa itu.

Ketertarikannya terhadap musik terus berkembang tatkala memasuki usia remaja. Pada 1965, Guruh membentuk grup musik The Beat G. Sepuluh tahun kemudian, ia bersama sejumlah musisi menghasilkan album Guruh Gipsy, sebuah karya yang memadukan musik modern dengan unsur gamelan Bali. Album tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu karya penting dalam perjalanan musik Indonesia.

Membangun Panggung Seni Indonesia

Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Mahardhika, wadah yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas seni pertunjukan yang berpengaruh pada masanya. Melalui kelompok itu, Guruh mengembangkan gagasan pertunjukan yang memadukan musik, tari, koreografi, busana, dan unsur kebudayaan Indonesia dalam sebuah pertunjukan berskala besar.

Karya-karya pertunjukan Guruh kemudian hadir dalam sejumlah pagelaran besar. Di antaranya "Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I" pada 1979; "Untukmu Indonesiaku" pada 1980, serta; "Cinta Indonesia", hingga "Gilang Indonesia Gemilang" pada 1986. Pada 1987, ia juga menggelar pertunjukan kolosal "Jak Jak Jak Jakarta" serta "Gempita Swara Mahardhika" untuk memperingati satu dekade berdirinya Swara Mahardhika.

Kiprahnya tidak berhenti pada panggung musik dan tari. Guruh juga terlibat dalam perfilman, terutama sebagai ilustrator musik. Sejumlah film yang menggunakan kontribusi musiknya antara lain "Ali Topan Anak Jalanan", "Gita Cinta dari SMA", dan "Puspa Indah Taman Hati". Ia juga pernah tampil sebagai aktor dengan memerankan Sunan Muria dalam film Sembilan Wali pada 1985.

Di bidang musik, Guruh menghasilkan sejumlah karya yang kemudian dikenal luas, antara lain "Melati Suci", "Zamrud Khatulistiwa", "Janger", "Smaradhana", dan "Gemuruh". Sejumlah karya tersebut menunjukkan kecenderungannya untuk menjadikan unsur tradisi dan identitas Indonesia sebagai bagian penting dari ekspresi musik modern. Menurut laporan Antara, karya-karyanya juga terus dipentaskan dan dibawakan kembali oleh generasi musisi setelahnya.


Guruh Soeakrnoputra (kanan) bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam peluncuran prangko para pendiri bangsa di Jakarta, Selasa (12/8/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.)

Penghargaan di Dunia Musik

Guruh juga mencatat sejumlah prestasi dalam kompetisi musik. Pada Festival Lagu Populer Tingkat Nasional 1976, komposisinya "Renjana" menjadi salah satu karyanya yang menonjol. Ia kemudian mewakili Indonesia dalam World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang, dan meraih Kawakami Award serta Audience Selections Award melalui lagu "Kembalikan Baliku". Lagu tersebut juga meraih penghargaan dalam Festival Lagu Populer Tingkat Nasional 1987.

Selain itu, Guruh pernah memperoleh penghargaan ilustrasi musik dalam Festival Film Indonesia 1978 di Ujung Pandang. 

Pengaruh Guruh dalam seni pertunjukan Indonesia juga tercermin dari banyaknya seniman yang pernah terlibat dalam lingkungan Swara Mahardhika. Sejumlah nama yang kemudian dikenal luas, seperti Titi DJ, Deni Malik, Dewi Gita, Memes, dan Euis Darliah, pernah berkiprah di lingkungan tersebut. Swara Mahardhika turut memelopori bentuk pertunjukan seni yang memadukan berbagai unsur budaya Indonesia dengan kemasan pertunjukan modern.

Dari Seniman ke Parlemen

Selain dikenal sebagai seniman, Guruh juga meniti perjalanan yang panjang di dunia politik. Ia menjadi anggota DPR RI dan tercatat sebagai legislator dari PDI, kemudian PDI Perjuangan. Dokumen DPR mencatat Guruh pernah duduk di parlemen pada periode 1992–1997 dan kemudian kembali terpilih sejak Pemilu 1999. Ia mewakili sejumlah daerah pemilihan (dapil) di Jawa Timur.

Pada Pemilu 2019, Guruh kembali terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur VI. Menurut catatan Antara, saat itu ia mencalonkan diri kembali untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut.

Di parlemen, perhatian Guruh tidak sepenuhnya terlepas dari latar belakangnya sebagai seniman. Ia pernah duduk di Komisi X DPR yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, dan olahraga.

Perjalanan tersebut memperlihatkan dua dunia yang menjadi bagian penting dalam kehidupan Guruh, yakni seni dan politik. Di satu sisi, ia membangun karya melalui musik, tari, dan pertunjukan. Di sisi lain, ia menggunakan jalur politik dan parlemen untuk terlibat dalam kehidupan publik.

Menjaga Warisan Seni dan Indonesia

Bagi Guruh, seni bukan sekadar hiburan. Karya-karyanya banyak mengambil inspirasi dari kekayaan budaya Nusantara, mulai dari musik dan tari tradisional hingga simbol-simbol kebangsaan. Ia kemudian mengolahnya dalam bentuk pertunjukan yang lebih modern tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisi Indonesia.

Pada 2014, misalnya, Astra International (ASII) menggelar "Konser Satu Indonesia: Salute to Guruh Soekarno Putra" sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjangnya dalam seni dan budaya. Dalam konser tersebut, karya-karya Guruh dibawakan kembali oleh sejumlah musisi lintas generasi.

Beberapa tahun sebelumnya, Guruh juga menggelar "Beta Cinta Indonesia" di Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan tersebut menjadi penanda empat dekade perjalanan karyanya sekaligus menghadirkan kembali sejumlah lagu dan karya tari yang pernah dibuatnya.

Jejak Guruh kini juga menjadi bagian dari dokumentasi sejarah Indonesia. ANRI menyimpan transkrip wawancara sejarah lisan Guruh sebagai bagian dari dokumentasi keluarga dan orang-orang terdekat Presiden Soekarno.

Guruh Soekarnoputra meninggalkan warisan yang berada di antara dunia kesenian dan kebangsaan. Melalui lagu, tari, koreografi, pertunjukan, hingga aktivitas politiknya, ia menjadikan Indonesia sebagai sumber inspirasi sekaligus ruang pengabdian.

Kini, selepas kepergiannya, karya-karya tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif akan seorang seniman yang selama lebih dari lima dekade mencoba menerjemahkan kecintaannya pada Tanah Air ke dalam bahasa musik, gerak, dan panggung.***

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.