Bukalapak, salah satu perusahaan e-commerce besar, tidak khawatir terhadap rencana investasi Amazon Inc di Indonesia. Raksasa e-commerce asal Amerika Serikat (AS) itu diprediksi akan masuk secara bertahap ke bisnis komputasi awan (cloud computing) sehingga tidak langsung terjun membuka bisnis e-commerce di Indonesia.
Co-Founder dan President Bukalapak Fajrin Rasyid mengatakan, investasi Amazon di Indonesia hanya US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,5 triliun dan dilakukan secara bertahap selama satu dekade. "Untuk e-commerce (dana) itu masih kecil," kata Fajrin di kantornya, Jakarta, Kamis (27/9).
Riset McKinsey menunjukkan, nilai pasar e-commerce di Indonesia mencapai US$8 miliar atau Rp 112 triliun pada 2017. Nilai pasar tersebut diproyeksi mencapai US$ 65 miliar atau sekitar Rp 910 triliun pada 2022. "Transaksi yang diterima e-commerce dalam tiga tahun terakhir jauh di atas US$ 3 miliar," kata Fajrin.
Kendati begitu, ia tak menutup kemungkinan Amazon bakal membuka bisnis e-commerce di Indonesia seperti yang terlihat dari ekspansi Amazon di Singapura. "Belum dalam waktu dekat lah. Tetapi, lima tahun kemudian, siapa yang tahu?" ujar dia.
(Baca: Transaksi Tembus Rp 4 Triliun per Bulan, Bukalapak Kaji IPO)
Beberapa perusahaan e-commerce lainnya, seperti Tokopedia dan Shopee, mulai mengantisipasi kehadiran Amazon dengan meningkatkan kapasitas bisnis pedagang atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). "Permainan akhir mereka cenderung menguasai rantai distribusi dari hulu ke hilir membuat tak ada lagi ruang bagi merchant dan brand lokal, baik kecil hingga besar," ujar Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia William Tanuwijaya.
Kedatangan Amazon tidak hanya berdampak pada bisnis e-commerce tetapi juga bisnis lainnya. Amazon memiliki banyak lini bisnis mulai dari infrastruktur teknologi hingga logistik. Ia khawatir, pendekatan ini bakal diterapkan juga di Indonesia. Untuk itu, pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi kehadiran raksasa global tersebut.
Tidak heran pasar Indonesia dibidik perusahaan teknologi asal AS tersebut. Berdasarkan kajian McKinsey, evolusi perdagangan online di Indonesia saat ini menyerupai Tiongkok pada 2010. Beberapa indikator yang dilihat adalah penetrasi electronic retailing (e-tailing) dan internet, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, pembelanjaan retail, dan urbanisasi.
Jika pertumbuhan perdagangan online di Tiongkok naik dari 3% di 2016 menjadi 16% saat ini, sangat mungkin bagi pasar e-commerce Indonesia untuk bertumbuh dengan kecepatan yang sama atau lebih cepat. Sebab, masyarakat Indonesia sangat gemar menggunakan smartphone, termasuk media sosial.
(Baca: Tokopedia dan Shopee Dorong Pemerintah Kaji Efek Negatif Amazon)