TOCO kebanjiran pedagang online di tengah tren kenaikan biaya admin seller di platform e-commerce lain. Marketplace baru bernuansa kuning ini menawarkan gratis biaya admin.

CEO TOCO Arnold Sebastian enggan memerinci peningkatan jumlah seller. “Banyak yang kesal (dengan biaya admin yang naik). Mereka lari ke kuning. (Migrasi) ini organik,” kata dia dalam acara Selular Telco Outlook di Jakarta Selatan, Rabu (26/11). 

“Kami tidak mengeluarkan biaya satu rupiah pun untuk marketing. Semuanya organik,” Arnold menambahkan.

Berdasarkan keterangan para pedagang online yang ia temui, mereka mengeluhkan potongan yang diambil oleh platform e-commerce berkisar 8% - 38% dari penjualan. Namun ia tidak memerinci marketplace yang dimaksud.

“Margin sebesar itu tidak sehat untuk ekonomi. Brand tidak bisa berkembang kalau keuntungannya habis untuk platform,” ujar Arnold.

TOCO kini memiliki satu juga pengguna aktif bulanan dan 3,4 juta listing atau produk etalase.

E-commerce itu resmi hadir di Indonesia pada Agustus 2024. Marketplace ini dikenal karena menggratiskan biaya admin untuk penjual. Sebagai gantinya, platform membebankan biaya tetap Rp 2.000 per transaksi kepada pembeli yang disebut sebagai biaya parkir. 

Arnold menyebut tagihan itu untuk menutup biaya pembayaran dan integrasi logistik tanpa memotong pendapatan penjual. 

TOCO memiliki dua layanan utama:

  1. TOCO Marketplace: Tempat jual beli produk seperti fashion, elektronik, dan kebutuhan sehari-hari. Proses checkout dan pembayaran dilakukan langsung di dalam aplikasi
  2. TOCO Classified: Fitur iklan baris yang memungkinkan penjual mempromosikan barang tanpa proses transaksi di aplikasi, seperti mobil, properti, dan produk besar lainnya

Melalui TOCO Classified, pembeli dapat langsung menghubungi penjual via nomor telepon atau WhatsApp, tanpa dibatasi oleh sistem chat tertutup seperti di marketplace lain. 

“TOCO sama seperti Toko Bagus dulu, bukan untuk membuat perusahaan besar, melainkan dibutuhkan,” kata Arnold.

TOCO membawa konsep pendekatan community-based marketplace. Arnold menyoroti hasil riset internal yang menunjukkan bahwa dalam banyak kategori, terutama barang bekas, motor, dan mobil, keputusan transaksi lebih ditentukan oleh hubungan antarindividu ketimbang faktor harga semata.

Ia menemukan pola bahwa transaksi motor bekas misalnya, sering terjadi dalam komunitas lokal, seperti antara pemilik dan dealer yang saling mengenal. Situasi ini disebutnya memperkuat konsep TOCO untuk membangun relasi langsung antara penjual dan pembeli.

“Dalam banyak komunitas, hubungan itu lebih penting daripada harga. Itu yang ingin kami perkuat,” kata Arnold.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina