Model Bisnis Afiliasi dan Video Jadi Mesin Baru Ekonomi Digital
Model bisnis berbasis afiliasi atau affiliate dan konten video kian menjadi penggerak utama ekonomi digital Indonesia. Hal ini seiring dengan proyeksi nilai ekonomi digital nasional yang diperkirakan tembus US$ 100 miliar atau setara Rp 1.679 triliun (kurs Rp 16.799 per dolar AS) pada 2025.
Shopee menjadi salah satu platform e-commerce yang mampu melahirkan profesi baru di era digital, yaitu afiliasi. Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira, mengatakan berdasarkan riset internal, konsumen lebih banyak yang memutuskan untuk membeli barang setelah menonton konten video terkait.
“Berdasarkan riset, 65% video itu jauh lebih efektif untuk sebagian orang check out atau berbelanja di e-commerce,” kata Radynal dalam acara peluncuran program meluncurkan program Training of Trainers: Shopee Affiliate di Balai BBPVP Bekasi, Rabu (11/2).
Tren ini tercermin dalam kinerja Shopee sepanjang 2025, Radynal mengatakan, lebih dari 50% peningkatan penjualan pada 2025 terutama dari Shopee Live dan Shopee Video.
“Jadi, benar-benar pembuatan video memang sangat menentukan di tahun 2025,” ujarnya.
Ia menilai transformasi digital sejatinya bukan semata soal teknologi atau platform, melainkan tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi tersebut untuk menciptakan dampak ekonomi.
“Inti transformasi bukan pada teknologinya, tetapi pada siapa yang menggunakannya dan untuk kebutuhan apa,” kata Radynal.
Menurut Radynal, konsep demokratisasi teknologi kini semakin nyata. Marketplace, platform konten, hingga program afiliasi menjadi pintu masuk bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk terlibat dalam ekonomi digital tanpa harus memiliki modal besar.
Penguatan Keterampilan Digital
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menilai penguatan keterampilan digital menjadi kunci untuk menangkap potensi ekonomi digital yang terus membesar. Jika pada 2025 nilainya diproyeksikan mencapai sekitar Rp 1.679 triliun, maka pada 2026 angkanya diyakini akan meningkat.
“(Potensi ekonomi digital) tahun 2026 tentu lebih meningkat lagi dan ini menunjukkan sebuah peluang,” kata Yassierli.
Yassierli menyatakan transformasi digital tidak selalu hadir dalam bentuk yang spektakuler. Perubahan bisa dimulai dari kelas pelatihan, komunitas daerah, hingga individu yang mau beradaptasi dengan teknologi.
Dengan pertumbuhan live commerce, penguatan ekosistem afiliasi, serta dukungan pelatihan dari pemerintah, model ekonomi digital berbasis konten diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi digital 2026.
Target Munculkan 10 Ribu Afiliator
Untuk menjawab tantangan dalam memanfaatkan potensi ekonomi digital, Kementerian Ketenagakerjaan dan Shopee Indonesia berkolaborasi untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia. Hal ini dengan meluncurkan program Training of Trainers: Shopee Affiliate Tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Sebanyak 100 peserta dari berbagai daerah mengikuti pelatihan intensif yang didukung instruktur Kampus Shopee bersertifikasi BNSP selama tiga hari. Program ini menargetkan 10 ribu afiliator baru pada akhir 2026.
Radynal mengatakan lewat program ini Shopee tidak hanya berbagi pengetahuan dan praktik terbaik di ekosistem affiliate, tetapi juga mendukung peran balai vokasi sebagai pusat pengembangan talenta digital hingga ke daerah-daerah.
“Melalui pelatihan Training of Trainers Shopee Affiliate, kami berharap para instruktur balai vokasi tidak hanya memahami praktik affiliate marketing secara komprehensif, tetapi juga mampu menjadi ujung tombak dalam menyebarkan pengetahuan tersebut kepada masyarakat di berbagai daerah,” kata Radynal.
Shopee menargetkan melatih 500 pengajar hingga akhir tahun 2026 yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Target ini diharapkan dapat memperluas jangkauan program ke lebih banyak balai pelatihan vokasi di berbagai daerah, sekaligus mempercepat proses penguatan kapasitas instruktur agar semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses pelatihan keterampilan digital secara berkelanjutan.
Sementara itu, Yassierli menilai transformasi dunia kerja menuntut untuk terus beradaptasi. “Program ini diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja, sekaligus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja agar mampu bersaing di era digital,” kata Yassierli.
Tak hanya itu, melalui pelatihan ini, para instruktur balai vokasi tidak hanya dibekali pemahaman teknis mengenai affiliate marketing, tetapi juga dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan di daerah masing-masing.
“Mereka diharapkan mampu menularkan pengetahuan dan keterampilan ini kepada masyarakat, khususnya generasi muda dan pencari kerja, agar dapat membuka peluang usaha dan sumber penghasilan baru secara mandiri,” ujar Yassierli.