Induk Facebook dan Instagram Beri Komisi Rp 432 Miliar Sebulan ke Kreator Konten

pexels.com
WhatsApp, Facebook, Instagram down
Penulis: Desy Setyowati
13/8/2026, 19.05 WIB

Meta menyebut para kreator di Asia Pasifik memperoleh lebih dari US$ 24 juta atau Rp 432 miliar (kurs Rp 17.991 per US$) dalam bentuk komisi melalui program affiliate dalam sebulan terakhir. Komisi INI berasal dari konten affiliate posts, termasuk Reels, di Facebook.

Program affiliate memungkinkan kreator bekerja sama dengan mitra ritel untuk memperoleh komisi atas penjualan produk yang mereka rekomendasikan melalui konten.

Dalam setahun terakhir, lebih dari 10 juta kreator di Asia Pasifik telah menghubungkan akun Facebook mereka dengan program affiliate. Meta juga sedang menguji solusi iklan affiliate.

Program affiliate Meta telah diperluas di Asia Pasifik bersama sejumlah mitra ritel. Di antaranya Shopee untuk Facebook dan Instagram, Lazada di Asia Tenggara, serta Flipkart dan Myntra di India.

Meta juga menyediakan fitur tag produk yang memungkinkan kreator menandai produk secara langsung dalam sebuah unggahan, termasuk Reels. Dengan fitur itu, kreator konten tidak perlu lagi menuliskan “link di bio” untuk mengarahkan pengguna ke produk.

Fitur tag produk dilengkapi ikon belanja dan label “Memenuhi Syarat untuk Komisi” untuk memberikan transparansi kepada pengguna.

9 Juta UMKM Gunakan AI untuk Iklan

Perkembangan bisnis kreator tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang juga dikembangkan Meta untuk membantu pelaku usaha memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Meta menyebut sebanyak 9 juta usaha kecil kini menggunakan salah satu tools kreatif berbasis AI generatif dari Meta untuk membuat iklan. Adopsi fitur pembuatan gambar juga meningkat lebih dari dua kali lipat pada kuartal ini.

Meta menyatakan AI telah berkembang dari teknologi yang sekadar dicoba menjadi infrastruktur. Perusahaan menyebut klien kini tidak lagi sekadar berspekulasi mengenai penggunaan AI, tetapi mulai mempertanyakan seberapa cepat teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam perencanaan kampanye, pembuatan konten hingga layanan pelanggan.

Meta menggunakan large language model atau LLM untuk meningkatkan kemampuan sistemnya dalam memprediksi dan menentukan peringkat iklan. Menurut Meta, langkah tersebut mendorong peningkatan signifikan dalam relevansi dan konversi iklan di Facebook dan Instagram.

Meta Siapkan AI untuk Bantu Bisnis

Meta juga mengembangkan Meta Business Agent, agen AI yang dapat disiapkan dalam hitungan menit untuk melayani pertanyaan, melakukan tindak lanjut, dan menangani pesanan pelanggan selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.

Meta Business Agent dapat menggunakan gaya komunikasi masing-masing brand dan terintegrasi dengan sejumlah sistem, termasuk Shopify, Zendesk, dan Shopee.

Platform tersebut telah digunakan oleh 1 juta bisnis secara global melalui WhatsApp dan Messenger dan akan segera diperluas ke Instagram.

Meta juga meluncurkan Small Business Growth Academy pada Juni lalu untuk membantu UMKM menguasai berbagai tools AI. Program ini mencakup lokakarya tatap muka, modul pembelajaran yang dapat diakses secara luas, serta pelatihan yang dipandu oleh mitra.

Program tersebut pertama kali diluncurkan di 12 negara di Asia Pasifik.

Langkah itu dilakukan Meta seiring tingginya aktivitas belanja melalui media sosial di Asia Pasifik. Meta menyebut separuh konsumen di kawasan tersebut menemukan dan membeli produk melalui media sosial, sedangkan 80% konsumen menonton livestream setiap pekan.

Dalam studi belanja musim liburan tahunan Meta dan Ipsos, sebanyak 50% konsumen Asia Pasifik berbelanja online di media sosial, lebih tinggi dibanding konsumen global sebesar 37%. Konsumen yang menemukan produk melalui platform Meta juga berbelanja 1,3 kali lebih banyak dibanding kawasan mana pun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.