Riset Katadata Ungkap Peluang Pindar sebagai Penggerak Ekonomi

Katadata/Rahayu Subekti
Pemaparan hasil riset industri pindar AFPI dan Katadata Insight Center di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Penulis: Rahayu Subekti
Editor: Ahmad Islamy
4/3/2026, 22.05 WIB

Katadata Insight Center mengungkap sejauh mana peluang pinjaman daring alias pindar sebagai penggerak perekonomian. Lead for Tech and Finance Advisory Katadata Insight Center, Hanif Gusman mengatakan, hal pertama yang terlihat adalah pindar sebagai mitra strategis penyaluran dana pemerintah.

Seperti diketahui, pemerintah pada Agustus 2025 menyalurkan Rp 200 triliun ke bank Himbara untuk memacu kredit.

Nah di dalam tahun ini pindar menurut kami itu berpeluang sebagai saluran distribusi, di mana kita tahu pindar menggunakan inovasi balance for industry sehingga mampu menjaring calon dan itu lebih fleksibel dibandingkan perbankan,” kata Hanif dalam acara paparan Riset Industri Pindar AFPI dan Katadata Insight Center di Jakarta, Rabu (4/3).

Dengan begitu, kata dia, pindar mampu menyaring calon debitur tanpa memerlukan agunan atau persyaratan ketat seperti bank konvensional.

Selanjutnya yang kedua yaitu pindar bisa melampaui batas geografis. Hanif menyebut saat ini banyak penduduk yang masih kesulitan mengakses fisik ruangan.

Dalam risetnya, sebanyak 18,9% penduduk masih kesulitan mengakses fisik ke lembaga keuangan. Lalu, masih ada gap inklusi keuangan antara perkotaan sebanyak 83,6% dan pedesaan 75,7%.

“Dengan adanya model bisnis pindar yang digital dan juga tanpa menggunakan kantor fisik, ini menjadi kunci penting dalam pertumbuhan penyaluran pindar dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan penyaluran kredit,” ujar Hanif.

Sementara itu, pertumbuhan penyaluran pindar di luar Jawa tercatat penerimaan pinjamannya naik 37,6% yang mencapai 4,63 juta akun. Volume penyalurannya naik 23,9% dari Rp 6,81 triliun menjadi Rp 8,44 triliun.

Pindar Dorong Konsumsi Nasional

Hanif menuturkan, dari kondisi tersebut pindar konsumtif mampu menopang stabilitas dan konsumsi nasional. Hal ini dikarenakan dalam beberapa waktu terakhir tren penyaluran pindar produktif mengalami penurunan. Sementara di sisi lain penyaluran pindar konsumtif mengalami peningkatan. 

“Ketika pindar produktif menurun, di sinilah tradisi industri pindar konsumtif itu menjadi krusial karena melibatkan rumah tangga,” kata Hanif.

Hal ini menurutnya berpengaruh bagi perekonomian. Sebab, konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto atau PDB Indonesia. Kontribusi konsumsi ini stabil di kisaran 52% hingga 58% dalam lima tahun terakhir.

Sementara itu, pindar produktif mengisi gap funding dan contributor perekonomian. “Dari survei yang dilakukan terhadap UMKM, pinjaman yang mereka dapat dari pindar itu sebenarnya tidak ditujukan untuk tujuan pasif atau konsumsi. Mereka itu menggunakannya untuk mengejar produktivitas mereka,” kata Hanif.

Dalam riset tersebut, dampak finansial per Rp 1 pinjaman produktif memiliki output ekonomi secara langsung yaitu berkontribusi Rp 6 ke perekonomian nasional.

Hanif mengatakan, alokasi permodalan yang diterima pengguna digunakan untuk pembelian bahan baku. Selain itu, dana juga dipakai untuk ekspansi bisnis seperti membuka wilayah atau jangkauan area. 

“Mereka (UMKM) juga memikirkan hal-hal untuk jangka panjang di setiap usaha mereka. Bisa kita lihat, ini seperti digunakan untuk inovasi produk, persediaan pelatihan, dan juga untuk penambahan atau peningkatan tenaga kerja,” ujar Hanif.

Untuk itu, riset tersebut merekomendasikan beberapa hal:

Sinergi Perbankan dan Pindar

Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat kolaborasi channeling antara bank Himbara dan platform pindar. Khususnya untuk menjangkau segmen unbankable dengan biaya modal yang lebih kompetitif.

Transparansi Biaya

Mendorong asosiasi untuk menetapkan standar komunikasi biaya layanan yang lebih transparan guna meningkatkan kepercayaan konsumen dan mengurangi hambatan psikologis calon peminjam.

Literasi Digital

Meningkatkan program edukasi keuangan bagi UMKM, khususnya terkait manajemen risiko pinjaman dan pemilihan platform yang berizin OJK, untuk membedakan industri resmi dengan praktik ilegal yang merugikan.

Dukungan Transformasi Digital

Mendorong platform pindar untuk terintegrasi dengan pendampingan digitalisasi sehingga penyaluran kredit produktif selaras dengan program peningkatan daya saing digital UMKM.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti